Sebelumnya, saya ucapkan ‘syahr mubarak’ atas masuknya bulan Ramadhan 1431 H, semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakan shiyam dan qiyam di dalamnya, dan menjadikan kita insan-insan yang bertakwa… aamin.

Amma ba’du… Pembahasan tentang asma’ was sifat memang menimbulkan polemik sejak dahulu. Polemik ini muncul akibat kekeliruan  sebagian pihak dalam memahaminya. Ada golongan yang menolak asma’ was sifat sebagai bagian dari tauhid, dan mengatakan bahwa pembagian tauhid menjadi 3 (rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ was sifat) adalah bid’ah-nya orang-orang ‘wahhabi’… Mereka mengatakan bahwa pembagian tersebut tidak ada dalilnya sama sekali. Kepada mereka kita pantas bertanya: Dalil apakah yang kalian maksudkan? Kalau dalil berupa ayat atau hadits atau ijma’ yang bunyinya: “Tauhid terbagi menjadi tiga: uluhiyyah, rububiyyah dan asma’ was sifat”, ya MEMANG TIDAK ADA… sebagaimana tidak adanya dalil (ayat, hadits, atau ijma’) yang mengatakan bahwa Syarat sahnya shalat ada enam umpamanya, yaitu: Islam, mumayyiz, thaharah, masuk waktu, niat, dan menghadap kiblat… atau syarat wajib zakat ada dua, yaitu nisab dan haul… atau syarat haji ada sekian, dst… demikian pula rukun-rukunnya, wajib-wajibnya, dan sunnah-sunnahnya yang banyak kita jumpai dalam kitab-kitab fikih… Akan tetapi anehnya mereka yg menolak pembagian tauhid menjadi tiga tidak pernah menolak hal-hal yg tersebut di atas… padahal semuanya sama-sama tidak punya dalil yg bunyinya: “Syarat sahnya shalat terbagi menjadi bla-bla-bla…” dst. ANEH… padahal mereka semestinya konsekuen dong… kalau pembagian tauhid menjadi tiga mereka tolak krn dianggap tidak ada dalilnya, maka pembagian yg berkenaan dgn syarat ibadah, atau rukun2nya juga harus mereka tolak.

Untuk menjawab syubhat ini, perlu kita ketahui bahwa apa yg dilakukan ulama Ahlussunnah (yg mereka juluki Wahhabi tsb) sebenarnya tidak berbeda dgn yg dilakukan para fuqoha’. Masing-masing mendasarkan pembagiannya dengan apa yg disebut istiqraa-un nushuush, artinya mengumpulkan dan menelaah nash-nash atau dalil-dalil yg ada tentang suatu masalah, lalu mengambil kesimpulan berdasarkan dalil-dalil tersebut. Bila kita teliti secara obyektif, ternyata Al Qur’an sendiri membedakan antara tauhid rububiyyah, yg artinya mengimani Allah sebagai pencipta, penguasa, dan pengatur alam semesta; dengan tauhid uluhiyyah yang merupakan tuntutan agar manusia hanya mengesakan Allah dlm semua bentuk ibadahnya… Buktinya, dalam banyak ayat Allah menyebutkan bhw pabila kaum musyrikin ditanya: siapakah yg menciptakan langit dan bumi? Niscaya mereka menjawab: Allah… (lihat: QS. Al Ankabut: 61; Luqman: 25; Az Zumar: 38 dll) pun demikian mereka tetap dianggap musyrik… dan tauhid mereka yg seperti itu tidak bisa menyelamatkan mereka dari api neraka. Ini jelas menunjukkan bahwa mentauhidkan Allah memiliki dua bagian yang harus dipenuhi, dan tidak cukup sekedar salah satunya… yaitu mentauhidkan Allah dengan hal-hal yg berkaitan dengan diri-Nya (yg tak lain adalah tauhid rububiyyah) dan mentauhidkan Allah lewat amal ibadah kita (alias tauhid uluhiyyah)…

Lantas apa dalilnya asma’ was sifat? Sebenarnya tauhid asma’ was sifat merupakan bagian dari rububiyyah, karena ia berkaitan dengan sifat-sifat dan perbuatan Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi berhubung tidak semua orang yg mengimani rububiyyah Allah juga mengimani asma’ was sifat-Nya, maka para ulama memisahkan  masalah asma’ was sifat dalam bagian tersendiri. Tentunya mereka punya dalil dlm masalah ini, yaitu firman Allah dlm QS. Al Furqan: 60 yg berbunyi:

{وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا} [الفرقان: 60]

Jika dikatakan kepada mereka (kaum musyrikin): “Sujudlah kepada Ar Rahman”, mereka mengatakan: “Apa itu Ar Rahman? Apa kami hendak bersujud kepada apa yg kau perintahkan?” dan perintah itu menjadikan mereka semakin lari dari iman.

Demikian pula yang terjadi dlm perjanjian Hudaibiyyah tatkala Nabi menyuru Ali bin Abi Thalib agar menulis: Bissmillahirrahmanirrahiem, Suhail bin Amr yg merupakan duta kaum musyrikin menyela: “Ar Rahman? Demi Allah, aku tidak tahu apa itu… tapi tulis saja: Bismikallaahumma, sebagaimana yg dahulu kamu tulis”. (HR. Bukhari no 2581).

Ini menunjukkan bahwa kaum musyrikin yg mengimani rububiyyah Allah ternyata tidak mengimani salah satu nama Allah, yaitu Ar Rahman, yg mengandung sifat kasih sayang… Kesimpulannya, tauhid memiliki tiga unsur yg harus dipenuhi: Rububiyyah, Uluhiyyah, dan asma’ was sifat. Bila salah satunya tidak dipenuhi, berarti pelakunya masih tergolong ‘kafir’  dan belum ‘muwahhid’, entah itu kafir dalam masalah rububiyyah, atau kafir dlm uluhiyyah, atau kafir dalam masalah asma’ was sifat. Namun khusus yg terakhir, tidak semua yang keliru dalam menyikapi asma’ was sifat lantas kita katakan sebagai  ‘orang kafir’, akan tetapi tergantung bagaimana kekeliruannya. Jika ia menolak semua asma’ dan sifat Allah, berarti dia tergolong Jahmiyyah yang menurut ijma’ ulama dianggap kafir, sebagaimana yg dinukil oleh Imam Bukhari dalam bagian awal dari kitab beliau yg berjudul: Khalqu Af’aalil ‘Ibaad. Namun bila mereka mengatakan bahwa Allah hanya memiliki nama tanpa memiliki sifat, maka merekalah golongan Mu’tazilah yg dianggap sesat dan ahli bid’ah oleh para ulama. Namun ada juga golongan yang ‘bingung’ dan terombang-ambing di antara kedua golongan tadi, yaitu kaum Asy’ariyah. Di satu sisi mereka membantah kesesatan golongan Jahmiyyah dan Mu’tazilah… namun di sisi lain mereka mengikuti kedua golongan tadi. Mereka menetapkan sejumlah sifat bagi Allah seperti: wujud, qidam, baqa’, mukhalafatu lil hawaditsi, qiyamuhu binafsihi, ilmu, iradah, qudrah, dst… yang jumlahnya kadang sampai dua puluh, dan mereka namakan sifat wajib bagi Allah… lalu ada pula sifat Ja-iz, dan ada pula sifat Mustahil.

Perlu kita tanyakan kepada mereka: “Apa dalil kalian atas pembagian tersebut? Adakah dalil dari Al Qur’an atau Sunnah yg mengatakan seperti itu?”. Tentunya tidak ada sama sekali… sebab itu merupakan pembagian yg muncul dari pengaruh ilmu kalam (filsafat)… yang sama sekali tidak pernah ada di masa para salaf (sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in).

Mereka menetapkan sifat wujud (ada) bagi Allah, demikian pula sifat ilmu (mengetahui/berilmu), qudrah (mampu), hayah (hidup), khalq (menciptakan), iradah (berkehendak), sami’ (mendengar), bashir (melihat), dan sejumlah sifat lainnya… akan tetapi menolak sifat istiwa’ di atas Arsy, atau berada di atas ‘Arsy. Mereka juga menolak bahwa Allah turun ke langit dunia pada setiap sepertiga malam terakhir… menolak sifat al-‘uluww, atau Allah berada di atas… menolak bahwa Allah memiliki wajah yg hakiki yg bukan berarti keridhaan… menolak bahwa Allah memiliki dua tangan yang hakiki… memiliki jari jemari… memiliki kaki yg hakiki… menolak bahwa Allah bisa marah, atau tertawa, atau ridha yang hakiki…

Sedangkan Ahlussunnah meyakini semua sifat tadi sebagai sifat yg hakiki bagi Allah, tanpa menafikan, menyerupakan, menakwilkan, atau menanyakan bagaimana hakikatnya. Ahlussunnah meyakini bahwa Allah memiliki wajah yg sesuai dengan kebesaran dan keagungan diri-Nya, yang tidak serupa dengan wajah makhluknya, dan tidak menakwilkan wajah sebagai keridhaan-Nya… sebab wajah adalah sifat yg berkaitan dengan Dzat Allah, sedangkan keridhaan berkaitan dengan perbuatan Allah… dan Ahlussunnah juga tidak menanyakan bagaimana hakikat wajah Allah tersebut.

Kita patut bertanya kepada mereka yg menolak sebagian sifat Allah dan menakwilkannya dengan dalih bahwa konsekuensi sifat tersebut adalah tajsim (menjasmanikan Allah) atau tasybih (menyerupakan Allah dgn makhluk-Nya); Kita tanyakan kepada mereka: “Bukankah Allah itu ada, hidup, mendengar, melihat, dsb…?” Mereka pasti mengiyakan… lalu kita katakan: “Kita pun ada, hidup, mendengar dan melihat”, apakah berarti keberadaan, kehidupan, sifat mendengar dan melihat kita sama dengan keberadaan, kehidupan, mendengar dan melihat-nya Allah?? Tentu tidak bukan… nah, begitu pula sifat-sifat lainnya… kita harus sikapi dengan cara yang sama.

Allah memiliki wajah, kedua tangan, jari-jemari, kaki dan lain-lain sesuai yg Allah tetapkan bagi Diri-Nya, atau yg ditetapkan oleh Rasul-Nya; dan sifat-sifat dzat tersebut jelas hakiki alias benar-benar ada… sebagaimana manusia yg juga memiliki wajah, kedua tangan, jari-jemari, kaki dll… namun jika kita menetapkan bahwa Allah memiliki wajah, dll; tidak berarti wajah-Nya, tangan-Nya, dll seperti wajah, tangan, dan anggota badan manusia… namun ia juga bukan berarti keridhaan, kekuasaan, dll; karena manusia benar-benar memiliki wajah, dan wajahnya tidak sama dengan keridhaan-nya… namun kita tidak boleh menanyakan bagaimana wajah, tangan, dan sifat-sifat dzat Allah lainnya.

Dengan begitu, kita bisa mengimani dan menyikapi semua masalah asma’ was sifat dengan benar. yaitu dengan memperhatikan empat syarat tadi: tidak menafikan, tidak menyerupakan, tidak menakwilkan dan tidak menanyakan bagaimana hakikatnya/caranya. Sedangkan mereka yg menolak sebagian sifat dzat atau sifat perbuatan Allah tadi, sebenarnya telah terjerumus terlebih dahulu dalam tasybih atau ta’thil (menyerupakan Allah dgn makhluk-Nya atau membatalkan sifat tsb). Bagaimana bisa begitu? Cobalah kita ikuti pola pikir mereka… ketika mereka mendengar bhw Allah itu punya tangan, atau berada di atas ‘Arsy, atau turun ke langit dunia, atau punya wajah, dst… segera terbayang dlm benak mereka: tangan manusia, wajah manusia, atau seseorang yg duduk di atas singgasana, atau seseorang yg turun dari suatu tempat, dan semisalnya… kemudian mereka segera mengingkari itu semua karena takut menyerupakan Allah dgn makhluk-Nya. INI JELAS BAYANGAN YG KELIRU !! sehingga kesimpulannya pun keliru. Siapa bilang tangan Allah seperti tangan manusia? atau wajah Allah spt wajah manusia? atau Allah berada di atas ‘Arsy spt orang duduk di atas singgasana? atau Allah turun ke langit dunia spt orang turun dari suatu tempat? Itu khan bayangan Anda pribadi, sedangkan kami tidak mengatakan spt itu…

Lantas bila mereka mengatakan: “Oh bukan begitu, wajah Allah itu artinya keridhaan… sedangkan tangan-Nya artinya kekuasaan… lalu istiwa’ di atas Arsy artinya istaula ‘alaih (menguasai ‘Arsy tsb) dst”  sebagaimana keyakinan mereka orang-orang Asy’ariyah. Mereka lupa, bahwa dengan menakwilkan sifat-sifat tersebut sebenarnya mereka terjerumus dalam ta’thil… alias membatalkan hakikat sifat tersebut. Kepada mereka kita katakan: “Siapakah yg lebih tahu tentang Allah, Dia atau kalian?” … “Kalaulah Allah telah mengatakan bahwa dirinya memiliki semua sifat dzat dan perbuatan tadi, lantas mengapa kalian menafikannya dan menakwilkannya tanpa dalil?”

Lalu kita bisa membikin analogi sederhana berikut: “Kalian memiliki wajah, tangan, kaki, bisa berbicara, bisa berjalan, berlari, dst”, lalu makhluk lain seperti monyet umpamanya, juga memiliki wajah, tangan, kaki, bisa bicara, berjalan, berlari dst… apakah semua sifat ini sama? tentu tidak bukan? Bahkan wajah, tangan, kaki, cara bicara, cara berjalan, dst yg dimiliki si Anton beda dengan yang dimiliki si Budi… Nah, bila sesama makhluk, bahkan sesama manusia saja berbeda-beda dlm semua sifat tadi, dan sifat-sifat tersebut juga tidak kita takwilkan dengan selainnya… maka bukankah perbedaan antara Khaliq dengan makhluk adalah lebih besar lagi?

kalau kita tidak menakwilkan bahwa wajah monyet adalah keridhaannya, atau tangan monyet berarti kekuasaannya, dst… lantas mengapa kita harus menakwilkan sifat-sifat Allah?

Terkadang, mereka menolak sebagian sifat Allah karena menganggap hal tsb mustahil dan memiliki konsekuensi yg tidak layak bagi Allah… contohnya sifat bahwa Allah senantiasa turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Mereka menolak sifat ini karena menurut ‘akal sakit’ mereka, sifat ini menimbulkan beberapa konsekuensi yg tidak baik, yaitu:

1-Allah akan senantiasa turun dan tidak naik-naik, karena sepertiga malam selalu bergeser dari satu tempat ke tempat berikutnya.

2-Allah berada di bawah alam semesta, alias diliputi oleh alam semesta… dan ini berarti ada yg lebih besar dari Allah.

3-Kalau Allah bisa turun, berarti dia berada di ‘atas’, alias dia diliputi oleh suatu arah dan tempat, dan ini -menurut mereka- adalah sesuatu yg mustahil bagi Allah.

Tentunya asumsi-asumsi tersebut bertolak dari kesalahan besar yg mereka lakukan sebelumnya… yaitu TASYBIH !! Ya… Mereka hendak lari dari tasybih namun justeru terperangkap ke dalamnya… Mereka yg menolak sifat tersebut pada hakikatnya telah menyerupakan Allah dgn manusia yg lemah yg tidak mungkin melakukan hal tersebut kecuali dengan konsekuensi-konsekuensi tadi… Memang, manusia tidak bisa turun kecuali konsekuensinya dia berada lebih rendah dari apa yg ada di atasnya… dst. Tapi Siapa bilang Allah seperti itu? Itu khan asumsi mereka… Sekarang marilah kita bikin sebuah perbandingan sederhana: Cobalah kita lihat salah satu makhluk Allah yg bernama Matahari. Dia adalah satu dari sekian banyaknya makhluk Allah… matahari yg jumlahnya hanya satu itu, ternyata mampu melakukan banyak hal yg tidak masuk akal… Di saat yg sama, dia menimbulkan panas yg luar biasa di suatu daerah, namun di daerah lain sebaliknya… dia terbit di suatu tempat, namun tenggelam di tempat lain, dia menimbulkan siang di satu lokasi, namun malam di lokasi lainnya… padahal mataharinya ya itu-itu juga dan gerakannya cuma searah… Namun mengapa mereka tidak menolak kemampuan matahari tersebut? Jawabnya karena mereka tidak menyerupakan matahari dengan diri mereka, sehingga bayangan yg keliru tadi pun tidak terbetik dalam benak mereka. Kalaulah matahari saja mampu melakukan hal-hal yg hebat tadi, maka apakah penciptanya tidak mampu (mustahil) untuk turun tanpa diliputi oleh tempat tertentu, atau turun tanpa tidak naik lagi, atau turun tanpa meninggalkan ‘Arsy-Nya… Mengapa Allah dianggap mustahil melakukan itu semua? Bukankah kalian mengimani bahwa ALlah mendengar doa seluruh hamba-Nya di mana pun, kapan pun, dengan bahasa apa pun mereka berdoa… kalian meyakini bahwa Allah tidak ‘bingung’ dengan banyak dan beranekaragamnya doa tsb… kalian juga meyakini bahwa Allah memberi rezeki semua makhluknya, baik manusia yg sekian milyar jumlahnya, maupun jin, semua binatang yang ada termasuk semut-semut di liangnya, ikan di lautan, burung di udara, dll… tanpa tersibukkan oleh mereka sedikitpun dan tanpa terlalaikan dari urusan lainnya… Kalau kalian mengimani semua kehebatan dan sifat Allah tadi, mengapa kalian tidak bisa mengimani bahwa Allah turun ke langit dunia secara hakiki, sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya dan tidak sama dengan cara turun makhluk-Nya? Demikian pula dengan sifat-sifat lainnya seperti tertawa, marah, dll…

Seandainya kalian kembali kepada fitrah dan meninggalkan pola pikir filsafat, lalu menerapkan keempat syarat tadi, niscaya semua sifat akan kalian imani dengan baik dan benar tanpa menimbulkan masalah sedikitpun…

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat, dan penulis berlindung kepada ALlah dari setiap kekeliruan dan salah tulis… semua kebenaran adalah milik-Nya, dan kesalahan adalah dari penulis pribadi. Wallahu a’lam bisshawaab.

About these ads
Komentar
  1. eko budi mengatakan:

    tulisan ini akan sangat bermanfaat bagi orang banyak dan akan saya sebar luaskan,

  2. Alhamdulillah, haadza min fadhli rabbi… silakan sebar luaskan.

  3. Tommi mengatakan:

    Artikel yg mampu membuka mata dan hati mengenai ashma wa shifat.

    Saya jadi paham skrg mengapa mereka…asy’ariyah itu menjuluki wahabi/salafy sebagai mujassim/musyabbih, karena pada hakekatnya mereka sendirilah yg terjatuh pada tajsim/tasybih. Wong sbnrnya gampang saja kok, imani sajalah apa yg telah Allah Ta’ala tetapkan mengenai-Nya didalam kitabNya maupun melalui lisan RasulNya tanpa ta’wil, ta’thil dsb, gitu aja kok repot.

    Cukuplah perkataan imam Ishaq bin Rahawaih menjadi pegangan saya, “tasybih itu hanya terjadi apabila kita mengatakan, wajah Allah seperti wajahku, tangan Allah spt tanganku…”

    Semoga kita dilindungi Allah Ta’ala dari segala kejahilan manusia dalam mengenal DzatNya.

  4. Ahsanta, Baarakallaahu fiik ya akhi…

  5. lucky mengatakan:

    Assalamu’alikum’ ustadz,
    Alhamdulillah mendapatkan pencerahan.
    Oh ya ustadz, wahabi itu apa? apakah mereka orang islam atau kafir? Maaf ustadz saya lagi belajar islam.
    Wasalamu’alikum,

  6. Wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakaatuh..
    Alhamdulillah, senang bisa kenalan dengan anda… semoga Allah membimbing kita selalu dalam memahami Islam yg murni secara obyektif, sesuai yg diajarkan oleh Baginda Nabi tercinta, aamin.

    Menjawab pertanyaan Anda, istilah ‘Wahhabi’ sering disematkan kepada orang-orang yang mengikuti dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (1115-1206 H) rahimahullah, yg muncul di jantung jazirah Arab (wilayah Saudi Arabia skrg). Beliau sebenarnya tidak membawa ajaran baru, karena yg beliau ajarkan adalah Islam itu sendiri… hanya saja, beliau berusaha memperbaharui pemahaman dan pengamalan masyarakat setempat terhadap Islam. Mengingat masyarakat Arab kala itu telah tenggelam dalam berbagai kemusyrikan, bid’ah, dan khurafat… singkat kata, kondisi mereka kala itu telah kembali kepada kondisi zaman jahiliyah, bahkan lebih parah lagi. Oleh karenanya, setelah melanglang buana ke Mekkah, Madinah, Irak, dan lain-lain dalam menuntut ilmu, Syaikh Muh bin Abdul Wahhab kembali lagi ke kampung halamannya untuk mendakwahkan ajaran Islam dan memerangi segudang penyimpangan tadi. Beliau menjelaskan berbagaimacam kemusyrikan, bid’ah, dan khurafat yg mendarah daging di masyarakat berdasarkan dalil-dalil dari Al Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan perkataan para ulama salaf (artinya ulama-ulama dari generasi Sahabat, Tabi’in, dan tabi’it tabi’in).
    Beliau berjuang mati-matian untuk mengembalikan umat ke jalan yg benar, dan beliau mendapat permusuhan sengit dalam hal ini. Terutama dari tokoh-tokoh agama dan pemuka masyarakat yg selama ini mendapat keuntungan dari kondisi umat yg terpuruk dalam lembah kebodohan, syirik, bid’ah dan khurafat tsb. Mereka yg selama ini dianggap wali, dikultuskan, diberi pesangon oleh penggemarnya –mirip para haba-ib dan kyai besar di Indonesia– merasa sangat terancam dengan dakwah Syaikh Muh bin Abdul Wahhab. Karenanya, mulailah mereka menyebarkan isu jelek tentang dakwah beliau, terutama kaum Syi’ah Rafidhah (yg ada di Iran skrg), kaum Sufi (pengikut ajaran tasawuf dengan berbagai tarekatnya), dan sekte-sekte sempalan Islam lainnya yg selama ini mendominasi pemikiran umat Islam. Mereka menamakan dakwah beliau dengan ‘dakwah wahhabiyah’, dan pengikut beliau dinamakan ‘wahhabi’. Itu semua demi menjauhkan masyarakat dari dakwah beliau yg mengajak kepada Islam yg murni tsb. Mereka menuduh beliau mengkafirkan kaum muslimin, dsb… yg terlalu banyak untuk saya rinci satu persatu. Tapi Alhamdulillah, setiap kebenaran pasti akan jaya cepat atau lambat, sebanyak apa pun pihak yg memusuhinya… dan salah satunya adalah dakwah beliau. setelah puluhan tahun berdakwah… hasilnya mulai kelihatan. Semua fenomena syirik dan jahiliyah lenyap dari jazirah Arab… suku-suku Badui Arab yg semula tak pernah bersatu dan selalu berperang satu sama lain dapat disatukan dalam satu pemimpin… berbagai bid’ah yg memecah belah kaum muslimin berhasil disingkirkan. Salah satunya adalah bid’ah shalat wajib berjama’ah berulang kali di Mesjidil Haram setiap waktu. Karena masing-masing madzhab memiliki mihrab, imam, dan jama’ah sendiri. Saya bahkan sempat melihat foto masjidil haram dengan empat mihrab, demikian pula foto kuburan Baqi’ di Medinah sebelum direformasi oleh para pengikut Syaikh Muh bin Abdul Wahab, yg terlihat di dalamnya sejumlah kubah di atas kuburan, dan ini bertentangan dengan ajaran Rasulullah yg memerintahkan untuk tidak membangun kuburan, menulisi, maupun memplesternya. Dan berbagai bid’ah lainnya yg tidak mungkin kami sebutkan satu persatu.
    Intinya, mereka yg dijuluki wahhabi sebenarnya adalah umat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yg sebenarnya, yg berusaha memahami dan mengamalkan Islam yg murni sebagaimana di zaman Nabi, baik dalam masalah akidah, ibadah, maupun mu’amalah.
    Dari sini, sebenarnya julukan ‘wahhabi’ yg disematkan kpd pengikut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidaklah tepat secara gramatikal bahasa Arab. Sebab, ‘wahhabi’ adalah penisbatan kepada ‘wahhab’. Karena nama tokoh mreka adalah Muhammad dan nama bapaknya adalah Abdul Wahhab, sehingga penisbatan yg tepat secara bahasa mestinya: “muhammadi”, bukan “wahhabi”.
    Demikianlah singkatnya, semoga mendapat pencerahan.

  7. zakkiy mengatakan:

    assalamu’alaykum ya ustadz, mungkin perlu dijelaskan lg setidaknya bagi saya, apakah arti dari tidak menakwilkan itu?

    karena mungkin orang yang bermaksud menjelaskan salah satu nama dan sifat Allah dapat terjerumus ke dalam menakwilkan, bukan begitukah ustadz?

  8. Wa’alaikumussalaam… ta’wil memiliki dua pengertian. Menurut ulama salaf, kata ta’wil sama artinya dengan tafsir, yaitu penjelasan. Inilah yang dipakai oleh Imam Ath Thabari dalam Tafsirnya… beliau mengistilahkan ‘tafsir’ dengan ‘takwil’. Adapun dalam perkembangannya, setelah aliran filsafat banyak merasuki pemikiran umat islam dan para ulamanya, istilah ta’wil memiliki arti lain yaitu memindahkan makna suatu kata dari yg lazim kepada yg tidak lazim karena suatu pertanda ke arah sana. Misal: Orang Arab menggunakan istilah ‘tangan’ dalam arti tangan (anggota badan) dan dalam arti kekuasaan. Ketika seseorang mengartikan ‘tangan Allah’ dengan ‘kekuasaan’, berarti dia telah menakwilkan… karena makna tangan yang lazim ialah tangan, bukan kekuasaan.
    Namun ada satu hal yg perlu difahami di sini, bahwa makna yg benar ialah makna yg pertama kali ditangkap oleh pendengar, walaupun terkesan menakwilkan. Contoh: ketika ada ayat yg berbunyi:
    واصنع الفلك بأعيننا ووحينا
    buatlah kapal itu dengan pengawasan dan wahyu dari Kami (HUd; 37). Kata (bi-a’yunina) asalnya dari kata ‘ain yg artinya mata. Akan tetapi konteks ayat di sini tidak mungkin diartikan demikian, dan setiap orang Arab yg mendengar ayat ini tidak mungkin memahaminya kecuali dengan penafsiran di atas. Jadi, yg seperti ini bukanlah takwil, tapi itulah makna sebenarnya.

  9. abuerzha mengatakan:

    Assalamualaikum yaa ustadz..
    tulisan/paparan yg mudah utk dicerna dan dipahami..syukron yaa ustadz ana semakin paham..teruskan berdakwah utk tegaknya kalimat TAUHID dan kembali kepada SUNNAH .ana tunggu tulisan2 ustadz selanjutnyaa..afwan mohon izin copas utk referensi ana tdk lupa ana cantumkan sumbernyaa..syukron.. :)

    Jazzakumulloh khairan katsiran..
    Wassalamualaikum..

  10. Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh

    Alhamdulillah, silakan copas dan sebarkan seluas-luasnya. wa jazaakumullaahu khairan katsiran.

  11. Hadian mengatakan:

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    Syukron Ustadz atas penjelasannya, dan suatu saat insyaalloh akan ana uploud di FB.

    Dan kebiasaan ana(ini yg ke dua) akan mengadukan status Fulan yg perlu pemahaman shohih.

    Diantaranya:

    1.Allah Ta’ala berfirman:

    ”sesungguhnya kami (ALLAH) telah melupakan kamu” (as-Sajdah)

    “mereka telah lupa kepada ALLAH maka ALLAH melupakan mereka” (at-Taubah).

    Perhatikan dua kalimat “LUPA” yang dinisbatkan kepada ALLAH Ta’ala dalam ayat di atas apakah mereka menetapkan sifat LUPA terhadap ALLAH ?? lalu mereka mengatakan lupanya ALLAH tidak sama dengan sifat lupa kita .. ???

    2.Dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah riwayat Hadits qudsi: –

    “Hai anak Adam, Aku sakit tapi engkau tidak menjenguk-Ku. Ia [hamba] ber- kata, ‘Bagaimana aku menjenguk-Mu sementara Engkau adalah Rabbul ‘Alamiin?’ Allah menjawab, ‘Tidakkah engkau mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan sakit, engkau tidak menjenguknya, tidakkah engkau mengetahui bahwa jika engkau menjenguknya engkau akan dapati Aku di sisinya…” (HR. Muslim, 4/1990. Hadits no. 2569).

    Apakah boleh kita mengatakan:
    Kita akan menetapkan bagi Allah sifat sakit, tetapi sakit Allah tidak seperti sakit kita (makhluk-Nya)??

    ================================================================================

    Yg ana tangkap dari status ini adalah merupakan bantahan thd artikel yg mengupas ttg Sifat Alloh spt : Tangan Kaki Turun dsb.

    Menurut Ustadz bagaimana menyikapi dua status diatas???
    Jazakallohu khair

  12. Mestinya kita memahami nash ayat dan hadits dari bahasa Arab, bukan dari terjemahannya. INILAH KESALAHAN TERBESAR dari si penulis status tsb. Kata ‘nasiya’ dlm bahasa Arab memiliki dua makna, salah satunya: LUPA dan makna lainnya: MENINGGALKAN, MEMBIARKAN (taraka-at tarku). Nah, bila kata nasiya ini dinisbatkan kepada makhluk (manusia), maka ia berarti ‘lupa’ atau ‘meninggalkan’, namun bila ia dinisbatkan kepada Allah maka ia HANYA berarti ‘meninggalkan’, sebab:
    1- Sifat lupa adalah sifat negatif yg tidak memiliki nilai positif sama sekali, sehingga tidak boleh menjadi salah satu sifat Allah.
    2- Allah telah menafikan sifat ini dari diri-Nya, yaitu dlm firman-Nya yg berbunyi: (وما كان ربك نسيا) “… dan Rabb-mu sama sekali tidak pernah melupakan” (Maryam: 64).

    Jadi, makna ayat ke-14 dlm As Sajdah adlh: “Maka rasakanlah siksa akibat kelengahan (lupa) kalian akan hari (pembalasan) ini; karena kami akan MEMBIARKAN kalian dalam azab ini…”.
    dan makna ayat berikutnya adlh: “Mereka melupakan Allah, maka Allah pun membiarkan/meninggalkan mereka…” artinya tidak memberi mereka taufik dan hidayah. Dan siapa pun yang dibiarkan oleh Allah tanpa taufik dan hidayah, maka pastilah dia celaka. Bukan berarti Allah melupakan mereka dan tidak meminta pertanggung jawaban dari mereka. FAHAM?

    Adapun sifat sakit tentulah tidak boleh dinisbatkan kepada Allah, dan hadits diatas jelas-jelas menafsirkan apa maksud dari ‘Aku sakit namun engkau tidak menjenguk-Ku’ tsb. Yaitu bahwa yang sakit, yang lapar, yg tidak berpakaian, dll semuanya adalah hamba Allah, bukan Allah itu sendiri. Jadi hadits ini sama sekali tidak bermaksud menetapkan sifat sakit bagi Allah, namun sekedar menganjurkan agar kita menjenguk orang sakit, memberi makan orang kelaparan, dan memberi pakaian orang yang kekurangan pakaian; karena hal itu akan mendatangkan ridha Allah dan pahala yg besar dari-Nya. Sebagaimana kelanjutan hadits itu sendiri. FAHAM?

  13. Ibnu Abdullah mengatakan:

    Assalamu’alikum warohmatullohi wabarokatuh

    Semoga keberkahan selalu menyertai Ustadz, Aamiin
    Afwan Ustadz ana mau klarifikasi ttg tuduhan sebagian orang,
    1. Bahwa Wahabi itu tdk cinta ahlulbait. Bagaimana Ustadz menanggapinya?
    2. Bagaimana kedudukan hadits tsaqolain dan hadits kain kisa Rosul Shollallohu ‘alaihi wassalam yg ditutupkan ke “Ali, Fatimah, Hasan dan Husain Rodiallohu anhum itu?

    Untuk sementara sekian dulu. Jazakallohu khair

  14. Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh.

    Aamin, wa iyyaak.
    Adapun mengenai wahhabi, jika yg mereka maksud adalah orang-orang yg mengikuti dakwahnya syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (yg notabene adalah dakwah salafiyyah ahlussunnah wal jama’ah), maka tuduhan tsb sama sekali batil. Bukti paling konkretnya ialah bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri memiliki empat orang putera, tiga di antaranya bernama Ali (yg sulung), Hasan, dan Husein; dan kun-yah beliau adalah Abu ‘Ali. Beliau juga punya beberapa orang puteri, salah satunya adalah yg bernama Fatimah. Masa’ orang benci dgn Ahlul Bait menamakan anak-anaknya dengan nama-nama tsb?
    Hadits tsaqalain jelas shahih karena diriwayatkan oleh Imam Muslim dlm Shahihnya. Adapun hadits kisa’ maka redaksinya ada macam-macam, ada yg shahih tapi ada pula yg dha’if. Ala kulli haal, kedua hadits tsb tidak bisa dijadikan dalil untuk membenarkan kekeliruan akidah syi’ah.

  15. Abdul Muiz mengatakan:

    Assalamualaikum warohmatullohi wabarokaatuh,

    Bersyukur sekali saya menemukam blog ustadz ini yg banyak memberikan pencerahan dan mencounter banyak syubhat2 yg sering saya temukan di media massa terutama di milist2 internet. Tak sengaja di FB saya temukan teman yg memposting spt dibawah ini (dia merasa lebih kuat dg kesimpulan bahwa Alloh tidak membutuhkan tempat, dst), lalu saya sengaja mencari tahu apa dasar pijkan dia termasuk hubungannya dg asma wa sifat Alloh. saya pribadi Insya Alloh tidak terpengaruh dan tetap berpegang pada pokok2 ajaran salaf yg saya yakini spt jg yg ustadz yakini, cuma saya belum sanggup utk mengcounter subhat yg diposting teman saya di FB. Sudilah kiranya ustadz baca diskusi dibawa ini dan memberikan koreksinya. Semoga Alloh membalas kebaikan ustadz, jazakumullohu khoir.

    wassalam
    Abdul Muiz

    Jawab: Ana sengaja membuang syubhat2, dan hanya menyisakan komentar dia yg ana cetak miring, lalu ana berikan tanggapan di bawahnya…
    ——————

    كَانَ اللهُ وَلمْ يَكُنْ شَيءٌ مَعَهُ
    ” Allah sudah Ada tanpa permulaan, sedangkan pada itu tidak ada sesutupun yang menyertainya ” ( HR. Bukhari).

    Jadi waktu dan tempat belum ada ketika ‘azali, lalu diciptakanlah keduanya oleh Allah SWT. Bagaimana mungkin Allah membutuhkan tempat seperti di langit, sementara tempat itu adalah makhluq-Nya ? Sayyidina Ali bin Abi Thalib menyatakan :

    كَانَ اللهُ وَلاَ مَكَان وَهُوَ الآنَ عَلَى مَا عَليْه كَانَ
    “Allah SWT sudah ada –qadim ‘azali– sedangkan saat itu belum ada tempat –dan waktu– , dan DIA saat ini tetap sebagaimana DIA ketika itu” ( kitab al Farqu Bainal Firaq hal 333 ).

    tanggapan: Ucapan Ali bin Abi Thalib itu tidak shahih, dan itu tidak mungkin diucapkan oleh beliau. Rujukannya pun kitab yg ditulis oleh seorang ulama Asy’ari (bukan ahlussunnah) yg hidup di abad ke 6 H. Jadi mana sanadnya? Masa’ dia bisa seenaknya menisbatkan perkataan yg sangat kental dgn bau filsafat kepada salah seorang sahabat mulia yg telah wafat lebih dari seabad sebelum masuknya bid’ah filsafat ke tengah kaum muslimin?? It’s impossible.

    Oleh karena itu, ijma’ ( sepakat ) para ‘ulama’ ahlus sunnah wal jama’ah bahwa Allah SWT tidak berada di mana-mana, sebab Dia tidak membutuhkan tempat, sebab tempat adalah makhluq-Nya.
    tanggapan: Itu kesepakatan ulama asy’ariyah, bukan ulama ahlussunnah salafiyah. An Nawawi itu asy’ari tulen (tanpa mengurangi hormat saya kepada beliau dan ulama lainnya), dalam masalah asma’ was sifat beliau tidak bisa jadi rujukan karena pasti akan memahami dengan prinsip2 asy’ariyyah. Ibnul Jauzi juga cenderung kepada ta’wil dlm hal ini.

    Termasuk sebisa mungkin kita hindari ungkapan ” Terserah Dia yang di atas sana”, atau ” Tuhan ada di sini di dalam jiwa ini”, sebab semuanya bisa menarik kita meski secara pelan-pelan ke arah ke-syirikan.
    tanggapan: Subhaanallaah… suatu hal yg telah menjadi fitrah manusia pun hendak mereka ingkari?? Padahal ketika seseorang berdoa, hati kecilnya mau tidak mau pasti merasakan bahwa yg diminta ada di atas… tapi karena telah teracuni filsafat, hal ini pun hendak mereka tolak?? Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.

    ” Allah Wujud, Qidam, Baqa’, Mukhalafatun Lil Hawaditsi, Qiyamuhu Binafsihi, Wahdaniyyah, Qudrah, Irodah, ‘Ilmun, Hayat, Sama’, Bashor, Kalam, Qodiron, Muridan, Aliman , Hayyan, Sami’an, Bashiron, Mutakalliman… “”( Syi’iran 20 sifat Dzat Allah, sebagaimana matan ‘Aqidatul ‘Awwam yang sering kita dengar atau kita pelajari ketika masih kecil ).
    tanggapan: Sungguh aneh, istilah-istilah hasil rumusan akal manusia justru dipegang lebih kuat dan dijadikan tolok ukur untuk memahami istilah-istilah yg Allah tetapkan bagi dirinya, atau ditetapkan oleh Rasul-Nya. Ketika Allah jelas-jelas mengatakan bhw dirinya ‘fissamaa’ (yg artinya ada di atas), mereka berusaha sekuat tenaga untuk menakwilkannya… Lho, siapa sih yg lebih tahu ttg Allah? Allah dan Rasul-Nya, ataukah mereka? Kalau Allah bilang bahwa dirinya ada di atas memangnya kenapa? Toh para sahabat dan salafus shalih –yg lebih brilliant dan lebih menyucikan Allah dari segala kekurangan daripada mereka– tidak pernah menakwilkan sifat-sifat tsb?

    Abdul Muiz Aiwa (saya gak tahu apa itu kosakata arab standard, yg saya tahu bhs umunya di arab sini artinya paham atau ok ). kalau masih berkenan satu lagi bagaimana menurut sampeyan ttg 3 jenis tauhid (Rubbubiyah, ulluhiyah dan asma’ wa sifat) terutama yg asma wa sifat apakah juga banyak yg tidak sepakat, bisa disebutkan linknya spt diatas please…. 7:17am • Like
    B Pak Muiz, kalau pembagian tauhid jadi 3 macam tersebut, setahu saya itu dipopulerkan oleh Syekh Ibnu Taimiyyah untuk memudahkan pemahaman tauhid supaya orang tidak terjebak dalam syirik tanpa sadar maupun menyerupakan Tuhan dengan makhluq-N…See More

    Tanggapan: Dalil pembagian tauhid menjadi tiga adalah istiqraa-un nushuush. Siapa yg menolak metode ini konsekuensinya harus menolak ribuan masalah dlm kitab-kitab fiqih yg menyebutkan bhw syarat wudhu’ ada sekian, shalat sekian, puasa sekian, zakat sekian, haji sekian, jual beli sekian, dst… yg semuanya adalah hasil dari istiqraa-un nushuush. Siapa pun yg istiqra’ kalau memang acuannya benar ya harus diterima, baik Ibnu Taimiyyah maupun yg lainnya.

    B:Hanya masalahnya jika pembagian tauhid tersebut dijadikan sebagai senjata untuk mem-bid’ahkan, men-syirik-kan, meng-kafir-kan sesama muslim, ini yang jadi problem. Seperti pengalaman saya ketika masih SMA dulu, mendatangi masjd –tempat saya belajar mengaji sejak kecil– sambil membawa kutaib “Khudz Aqidataka Minal Kitab Wa Sunnah”– karangan Jamil Zainuu, saya acung2kan sambil berkata “Membaca sholawat badar — tawassalnaa bibismillah, wa bil hadi rasulillah– ataupun burdah — ya robbi bil mushtofa balligh maqoshidana– adalah bentuk syirik karena tidak sesuai dengan tauhid uluhiyyah”. Sekarang saya tahu, tawassul adalah mubah, dan memvonis syrik pada pelaku tawassul merupakan kesalahan besar..astaghfirullah…
    Tanggapan: jadi kesimpulannya seorang muslim tidak boleh dianggap telah berbuat syirik sama sekali, gitu? kalau memang terjerumus dalam syirik bagaimana? Bedakan donk antara menghukumi perbuatan dengan menghukumi pelaku… Ketika kita mengatakan bhw siapa yg membaca shalawat naariyah berarti telah musyrik, itu namanya menghukumi perbuatan, dan ini tidak masalah karena memang lafazh2nya menyekutukan Rasulullah dengan Allah. Namun apakah si fulan bin fulan yg membaca shalawat Naariyah itu juga ‘pasti’ musyrik? Belum tentu…

    August 7 at 12:52pm • Like
    B Terkait dengan tauhid asma’ wa shifat, jika kita maksudkan untuk menjaga supaya tidak terjebak dalam penyerupaan sifat Allah dengan makhluq, maka bagus sekali. Namun jika digunakan sebagai alat untuk mem-bid’ah-kan atau menyesatkan madzhab yang memahami sifat2 Allah dengan metode ta’wil ( mengambil arti kontekstual, bukan literal ) seraya menyerahkan arti sebenarnya kepada Allah ( tafwidh ), maka ini problem yang serius. Saya dulu juga termasuk orang yang anti takwil, namun sekarang saya sadar bahwa ulama’ ahlus sunnah tidak ada yang anti takwil. Takwil digunakan untukmenjembatani orang awam supaya tidak salah memahami sifat Allah hingga terjebak pada tasybih dan tajsim.
    Tanggapan: orang ini rancu dlm memahami pengertian ta’wil. Ta’wil menurut bahasa arab dan istilah para salaf adalah sama dengan tafsir, atau berarti prediksi yg akhirnya menjadi kenyataan (Haadza ta’wiilu ru’yaaya min qablu). namun ta’wil menurut istilah ahli bid’ah (Asy’ariyah, Mu’tazilah, Maturidiyyah, dsb) adalah memalingkan makna rajih suatu kata kepada makna lain yg marjuh. Nah, inilah yg ditolak oleh Ahlussunnah dalam bab Asma’ was sifat. Dan hakikat menakwilkan adalah MENAFIKAN.
    Ketika Allah mengatakan bhw Diri-Nya menciptakan Adam dengan kedua tangan-Nya, lantas ‘tangan’ di sini ditakwilkan dengan kekuasaan, berarti sebenarnya Allah tidak punya tangan. Demikian pula ketika wajah ditakwilkan dengan keridhaan, berarti Allah tidak punya wajah, dst. Makanya para ulama Ahlussunnah menolak ta’wil, karena hakikatnya adalah menafikan makna, walaupun lafazh itu sendiri tidak dinafikan. Makanya Ibnu Taimiyyah menjuluki kaum Asy’ariyyah sebagai ‘banci-nya’ Mu’tazilah. sebab Mu’tazilah -walaupun batil- bersikap konsekuen dengan menolak semua sifat, namun Asy’ariyah tidak demikian. Sebagian kecil sifat diterima, dan sebagian besar ditolak. Tapi nampaknya ‘teman’ kita ini bukannya mendapat hidayah namun justru tersesat, naudzubillah…

    B ;Sebagai contoh, Imam Bukhari ketika menafsirkan QS. Al Qashash : 88 : Kullu Syaiin Halikun Illa Wajhahu ( Semuanya pasti binasa kecuali wajah-Nya ), ay Mulkahu ( Yakni Kekuasaan-Nya ). Jadi Imam Bukhari mentakwil lafadz “wajah” dengan “mulk” supaya orang awam tidak salah faham menyerupakan Allah dengan makhluq-Nya. Namun tidak berarti menolak sifat “wajah” bagi Allah, hanya arti hakekatnya diserahkan kepada-Nya ( tafwidh ) sementara bagi hamba-Nya boleh memahami secara ta’wil.
    Tanggapan: Apa yg dikatakan Imam Bukhari memang dhahirnya ta’wil, tapi jika diperhatikan lebih jauh… ternyata beliau dlm bab lainnya meriwayatkan hadits-hadits yg menetapkan sifat ‘wajah’ bagi Allah.
    Ala kulli haal, penakwilan itu sendiri JELAS-JELAS batil, siapa pun yg mengucapkannya!! Coba antum cerna: “Semuanya pasti binasa kecuali wajah-Nya) lalu ‘wajah-Nya’ disini ditafsirkan dengan ‘kekuasaan-Nya’, padahal kekuasaannya meliputi segala sesuatu (Lillaahi mulkussamaawaati wal ardhi waman fiihinna) “milik Allah-lah kekuasaan/kerajaan langit, bumi dan apa yg ada diantara keduanya” (alias jagad raya ini semuanya). Jadi kesimpulannya: “Semuanya pasti binasa kecuali semuanya?”, bisakah ucapan ini diterima oleh akal sehat??

    B Begitu pula dalam tafsir Ibnu Katsir di QS. Al A’raf : 54 tentang “istawa”, beliau mengatakan yang intinya “lebih baik menyerahkan artinya kepada Allah , tanpa takyif ( menanyakan tata cara ), tanpa ta’thil ( menolak sifat tersebut ), tanpa tasybih (menyerupakan dengan makhluq) “. Beliau tidak menyatakan “tanpa takwil”, artinya beliau tidak menolak takwil. Jadi perpaduan antara tafwidh dengan takwil…..
    Tanggapan: Beliau memang tidak menyebutkan ‘tanpa takwil’, namun bila dibaca kelanjutan ucapan beliau (yg sengaja diringkas oleh si penulis), jelas sekali bahwa beliau mengatakan:
    وأما قوله تعالى: { ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ } فللناس في هذا المقام مقالات كثيرة جدا، ليس هذا موضع بسطها، وإنما يُسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح: مالك، والأوزاعي، والثوري،والليث بن سعد، والشافعي، وأحمد بن حنبل، وإسحاق بن راهويه وغيرهم، من أئمة المسلمين قديما وحديثا، وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل. والظاهر المتبادر إلى أذهان المشبهين منفي عن الله، فإن الله لا يشبهه شيء من خلقه،
    Maknanya: “Adapun firman Allah (Tsummastawaa ‘alal ‘arsy, yg artinya: Kemudian Allah beristiwa’ di atas Arsy), maka orang2 memiliki banyak sekali pendapat ttgnya dan bukan disini tempat untuk menguraikannya. Namun masalah seperti ini hanya boleh disikapi dengan madzhab para salaf seperti: Imam Malik, Al Auza’i, Ats Tsauri, Laits bin Sa’ad, Asy Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih dll dari kalangan imam kaum muslimin baik dahulu maupun kemudian; yaitu (Camkan baik-baik): “Membiarkannya sebagaimana disebutkan dlm nas, tanpa takyif (menanyakan bagaimana?), tanpa tasybih, dan tanpa ta’thil (membatalkan/menafikannya). Adapun makna dhahir yg segera terbayang di benak para ahli tasybih, maka harus dinafikan dari Allah, sebab Allah tidak menyerupai makhluk-Nya sedikitpun…”
    Alangkah cermatnya perkataan beliau ini… bukankah alasan mereka menakwilkan ialah karena adanya bayangan/gambaran buruk atas sifat Allah tsb? Nah, inilah yg harus dinafikan karena apa yg mereka bayangkan itu adalah sifat makhluk, bukan sifat Allah. Memang, makhluk tidak akan bisa berada di atas kecuali jika ia diliputi oleh tempat, tapi Allah tidak demikian. Makhluk tidak mungkin bisa mendengar seribu permintaan dlm berbagai bahasa sekaligus, tapi Allah bisa !! Mengapa mereka tidak menafikan kehebatan Allah dlm mendengar doa seluruh hamba-nya tanpa bingung, lalu kehebatannya dlm menciptakan alam semesta beserta isinya… kehebatannya dlm memberi rezeki semua makhluknya setiap saat sejak dahulu sampai hari kiamat… dll….. namun mereka meragukan kehebatan Allah untuk berada di atas Arsy-nya sesuai dengan cara yg layak bagi kebesaran dan keagungannya? Kalau lah mereka mengakui -dan harus mengakui- bahwa Allah memiliki dzat hakiki, memiliki kehidupan, penglihatan, pendengaran, kehendak, pengetahuan, kekuasaan, dll yg semuanya tidak sama dengan makhluknya; lantas mengapa mereka tidak mengakui bahwa Dia juga memiliki tangan hakiki, wajah hakiki, mata hakiki, kaki hakiki, jari-jemari hakiki dll yg semuanya juga berbeda dengan makhluknya?? mestinya mereka konsekuen donk..

    August 7 at 4:42pm • Like
    B Maka ta’wil berbeda dengan ta’thil, sebab ta’thil berarti menolak secara mutlak sifat-sifat Allah ( seperti madzhab Jahmiyah dan Mu’tazilah ), sementara ta’wil menerima sifat-sifat Allah , supaya tidak terjebak dalam tajsim dan tasybih. Silakan baca kitab “Daf’u Syubahi Tasybih bi Akaffi tanzih ” tulisan al Hafidz Ibnul Jauzi (w. 6 H ) yang ada di link yang saya tunjukkan sebelumnya. Juga sejarah mencatat polemik yang sangat keras antara Imam al Hafidz Taqiyuddin Subki ( w. 8 H) Qadhi Qudhot (kepala para Qodhi ) saat itu dengan Syekh Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qoyyim, karena beliau berdua menolak ta’wil dan menganggap ahli ta’wil sebagai ahli ta’thil. Ulasan Imam as Subki ini bisa dibaca dalam “as Saifu Shaqiil fir Radd ‘ala Ibni Zafiil”, dan di pertajam dengan catatan kaki Syekh Muhammad Zahid al Kautsari dengan judul “Tabdidu Dholam ‘ala Nuniyyah Ibnil Qoyyim”.

    Tanggapan: Kalau rujukannya saja adalah muh zahid al kautsari yg dianggap sebagai Jahmiyyah kontemporer, maka ana bisa memahami kekeliruannya selama ini… ala kulli haal: setiap yg menakwilkan suatu sifat, berarti telah menta’thil makna sifat tersebut, walaupun tidak mengingkari lafazhnya… Ta’thil juga erat hubungannya dengan tasybih. Sebelum menta’thil, seseorang terjerumus terlebih dahulu kpd tasybih (walaupun tidak dia sadari), yaitu ketika dia membayangkan ‘tangan’ Allah spt tangan manusia… lalu ia buru-buru menolaknya karena takut menyerupakan ALlah dgn makhluknya (ta’thil). Jadi jangan terkecoh dengan klaim mereka, karena sebenarnya mereka justru terjebak dlm tasybih itu sendiri.
    Adapun istilah tajsim sering kali mereka jadikan tombak untuk memvonis ahlusunnah salafiyyah yg menetapkan adanya tangan, wajah, kaki, mata, betis, dll bagi Allah. Padahal lafazh ‘jism’ (jasmani) itu sendiri tidak pernah diucapkan oleh Ahlussunnah, itu adalah lafazh bid’ah yg terkadang digunakan untuk maksud yg benar, namun bisa juga disalah gunakan. Makanya ketika ditanya: Apakah Allah punya jism ataukah tidak? Ahlusunnah akan menanyakan lebih lanjut: “Apa yg kamu maksud dgn jism?”, kalau maksudnya ‘dzat’, maka kita katakan: “Iya, Allah punya dzat”, namun jika maksudnya adalah ‘darah dan daging’ sbgmn jasmani manusia, maka kita nafikan 100%. Laisa kamitslihi syai’.

    B :Namun alhamdulillah, Syekh Ibnu Taimiyyah ketika dihadapan majelis qodho’ menyatakan bertaubat dari pemahaman sebelumnya yang anti ta’wil, bahkan beliau menyatakan mengikuti madzhab aqidah asy’ariyah yang dianut oleh sebagian besar ummat Islam. Kisah ini dituturkan oleh Syekh an Nuwairi, tokoh malikiyyah sezaman dengan Ibnu Taimiyyah, juga ditulis dalam ad Durarul Kaminah karya Imam Ibnu Hajar al Asqolani, penyusun Fathul Bari.
    Tanggapan: Ko’ hari gini masih ada yg mempercayai ‘dongeng’ taubatnya Ibnu Taimiyyah ini yah?? Saya geli juga mendengarnya… masa’ orang taubat tidak ada bekasnya sama sekali? Tuh kitab-kitabnya ibnu Taimiyyah masih beredar hari ini dan tidak ada satu statemen pun dari beliau yg mengatakan bhw beliau taubat dan mengikuti madzhab Asy’ariyah… bahkan isinya adalah bantahan thd Asy’ariyyah dan firqah2 sesat lainnya. Dan anehnya, yg menceritakan ko’ justru orang yg berseberangan dgn beliau (an Nuwairi)? Ko’ bukan murid-murid dan pengikutnya? Apakah ini bukan suatu kejanggalan besar? Adapun dimuatnya kisah beliau dlm Ad Durarul Kaaminah, sama sekali tidak berarti bhw kisah tsb benar, karena kitab itu bukanlah sahih bukhari/ shahih muslim yg memuat ‘hanya’ yg shahih, tapi semua kitab biografi dan tarikh pasti mencampur antara fakta, legenda, dan hikayat (dongeng).

    B Sudah ya Pak, saya capek diskusi, saya pengin amal yang ikhlas saja…jika ingin diskusi silakan visithttp://jundumuhammad.wordpress.com/ , pemilik situsnya kompeten insya Allah…saya cuma anut2 saja…wassalam…doakan bisa ikut ke gurun :)
    Tanggapan: Ya iya lah, lha wong diskusinya pake filsafat batil… coba ikuti saja madzhab salafusshalih, niscaya hatimu akan tenang dan tidak pusing memikirkan asma’ was sifat. Apalagi kamu cuma anut-anut, wah bahaya tuh !!

  16. Tommi mengatakan:

    Assalamu’alaikum ustadz,

    Syukron atas bantahannya diatas. Sebegitu rumitnya pemikiran asy’ariyun ya ustadz hingga ana sendiri susah mencernanya (dan sejujurnya ana ga berharap mengerti jalan pikiran mereka). Memang sedemikian parahnya syubhat2 ilmu kalam merasuki jalan pikiran kawan2 kita asy’ariyun sehingga bisa merusak fitrah mereka mengenai tauhid. Contohnya, ahlussunnah meyakini Al Qur’an adalah kalamulloh, titik, tanpa ada embel2. Tetapi asy’ariyun membuat ribet dengan adanya tambahan definisi kalam nafsi dan kalam lafzhi. Ana jg ga mengerti apa dasarnya mereka membuat tambahan2 definisi ini.

    @akhi Abdul Muiz,

    Ana pribadi menyarankan jgnlah terlalu sering berdiskusi dengan asy’ariyun krn syubhat2 mereka kencang sekali. Ana percaya antum tidak akan terpengaruh tp masya Allah akhi, kita ga akan tau dari arah mana syetan akan menghembuskan syubhat2 yg kerapkali kita baca itu hingga suatu saat tau2 syubhat2 itu akan hinggap di hati kita. Na’udzubillahi min dzalik. Jgn sampe terjadi ya akhi.

    Ana teringat nasehat ustadz ana, syubhat itu jgn terlalu sering dibantah tetapi cukup dihindari saja, dengan menyibukkan diri belajar Al Qur’an dan sunnah shahih dengan pemahaman salafus sholih. Doakan saja semoga teman antum itu mendapat hidayah Allah Ta’ala untuk kembali ke jalan sunnah yg lurus. Mudah2an ini berguna buat kita semua termasuk ana.

  17. tarbiyatulabna mengatakan:

    Ustadz artikelnya sangat bermanfaat bagi ana, untuk lebih memahami tauhid asma wa sifat. MasyaAllah…

    Jika ustadz ada waktu sudilah kiranya menambahkan kolom bacaan untuk anak. Entah itu dr Aqidahnya, kisah2 para sahabat/tokoh2 islam, akhlaq dlsb. Mungkin ditempat ustadz menuntut ilmu memiliki banyak sumber syar’i untuk ini.
    Permintaan ini berhubungan dengan sedikitnya sumber2 bacaan syar’i untuk anak-2. Sedang para ortu kadang kurang PD dengan ilmu agama yg dimilikinya. Jazakallah khoiron.

  18. [...] http://basweidan.wordpress.com Silahkan berbagi:TwitterFacebookDiggRedditStumbleUponEmailPrintLike this:SukaBe the first to like [...]

  19. hidup adalah pilihan mengatakan:

    ‘akal’ manusia hanya bisa membenarkan ‘penciptaan’ itu ada. dan ‘nurani’ manusia mengatakan ‘pencipta’ pasti memberikan ‘petunjuk’ pada ciptaannya yang ber -‘akal’.