Sunnah, Pentingkah? (2)

Posted: 12 Mei 2009 in sejarah inkarussunnah
Tag:,

4_13

Ayyuhal Ikhwah, dalam tulisan sebelumnya, kita telah sedikit menyinggung tentang fenomena inkarussunnah yang pertama, yaitu penolakan sunnah secara total. Kita juga telah menyebutkan beberapa metode yang mereka gunakan, seperti akal-akalan semata, atau mengkritik para perawinya, dan membikin hadits-hadits palsu untuk merusak citra sunnah itu sendiri. Sempat kita singgung pula di sana dua kelompok sesat yang mengadopsi sebagian metode di atas untuk menolak sunnah, yaitu Syi’ah dan Khawarij. Keduanya merupakan fenomena yang ada sejak zaman dahulu, tepatnya sejak abad pertama hijriyah.

Nah, dalam tulisan kali ini, saya akan membahas lebih jauh tentang fenomena inkarussunnah masa kini yang tak lepas dari sepak terjang kaum orientalis dan penjajah Barat, tentunya lewat kaki-tangan mereka dari kaum munafikin. Namun sebelumnya, ada baiknya jika kita telusuri terlebih dahulu akar sejarahnya.

Sejarah mencatat, bahwa sejak berdirinya Negara Islam Madinah di masa Rasulullah yang dilanjutkan oleh Khulafa’urrasyidin, kemudian Daulah Bani Umayyah, Bani ‘Abbasiyyah dan Khilafah Turki Utsmani, kaum muslimin selalu eksis dan disegani di seluruh dunia. Meski secara politik berulang kali mengalami pasang surut, namun kaum muslimin senantiasa berhasil mengembalikan eksistensi dan kejayaannya. Mereka senantiasa mengalami kemenangan dalam sebagian besar perang mereka… hingga tumbanglah dua imperium besar yang telah eksis selama berabad-abad, yaitu Persia dan Romawi, sebagai bukti akan kebenaran Sabda Nabi tercinta.

Berbagai macam cara telah ditempuh musuh-musuh Allah demi mematahkan semangat jihad kaum muslimin, akan tetapi mereka sia-sia… wajar saja, sebab bagaimana mungkin orang yang cinta dunia dan takut mati hendak mengalahkan mereka yang cinta mati dan zuhud terhadap dunia? Karenanya, mereka pun melakukan studi dan penelitian secara lebih mendalam tentang faktor apa yang ada di balik kekuatan mental dan spiritual kaum muslimin tersebut. Dan akhirnya mereka menyimpulkan bahwa faktor utamanya ialah eratnya kaitan kaum muslimin dengan ajaran agama mereka, alias mereka masih demikian terwarnai oleh ilmu-ilmu keislaman yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah.

Berangkat dari situ, kaum orientalis dan penjajah Barat mulai merubah strategi perang mereka dari perang senjata ke perang pemikiran. Mereka yakin seribu persen bahwa selama kaum muslimin masih berpegang teguh dengan Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar, niscaya mereka takkan terkalahkan selamanya. Karenanya, mereka harus dijauhkan dari keduanya, atau dirusak pemahamannya tentang Al Qur’an dan Sunnah.

Untuk merealisasikan hal tersebut, mereka memiliki banyak kaki-tangan dari setiap negara… merekalah orang-orang yang menjual agamanya demi sejumlah uang, ya… seperti kata pepatah: “Musang berbulu ayam”, mereka adalah musuh Islam yang berkedok sebagai muslim yang agamis.

Di benua India, pemerintah kolonial Inggris berhasil membeli sejumlah orang yang menganggap dirinya ‘intelektual muslim’, lalu menunggangi mereka untuk kepentingan pribadinya. Mereka senantiasa berkoar dan berusaha meyakinkan kaum muslimin agar meninggalkan perlawanan bersenjata terhadap Inggris, dan hal itu dilakukan setelah Inggris mengalami hari-hari yang pahit bersama harakah jihadiyah yang memeranginya di seantero India. Diantara mereka yang paling getol menyerukan dihentikannya perlawanan tadi ialah Si Nabi Palsu: Mirza Ghulam Ahmad Al Qadiyani.

Permasalahan pun berkembang hingga muncul kelompok baru yang menyerukan untuk menolak Sunnah secara total dan mencukupkan diri dengan Al Qur’an alias Qur’aniyyin. Gerakan ini dimotori oleh Sayyid Ahmad Khan, Abdullah Al Jakar Alawi, Ahmaduddien Al Amartasri dan lain-lain.

Ahmad Khan adalah orang India yang lahir tahun 1817. Ketika Inggris menguasai India, Ahmad Khan bekerja sebagai pegawai di perusahaan Inggris yang bernama East India Company. Ia bekerja dengan ikhlas dan penuh semangat untuk mereka. Ketika terjadi pemberontakan warga India terhadap kolonial Inggris th 1857, Ahmad Khan justeru menentang pemberontakan tersebut. Ia menganggap hal itu hanya akan membawa dampak negatif bagi bangsanya. Ia pun mulai kampanye demi menghentikan pemberontakan tersebut, bahkan rela membahayakan dirinya karenanya.

Pemberontakan pun berhasil dipadamkan setelah pemerintah kolonial Inggris membantai sejumlah besar kaum muslimin India. Inggris demikian menghargai ‘jasa’ Ahmad Khan bahkan menjulukinya dengan “Bintang India”, di samping mengangkatnya sebagai rekan dan anggota kehormatan di sebuah yayasan Inggris di London. Ia menerima gaji bulanan yang dapat diwarisi oleh anak sulungnya setelahnya. Setelah itu, Ahmad pun mengemban misi untuk menyebarkan budaya barat ke tengah kaum muslimin. Ia menganggap bahwa itu merupakan sarana utama untuk memperbaiki keadaan bangsanya.

Bahkan pada tahun 1862, ia menerbitkan sebuah tafsir Injil yang luas, agar tercatat sebagai ‘muslim’ pertama yang membuat karya tulis macam itu. Ia juga bekerja sama dengan Aga Khan III, Imam Sekte Isma’iliyyah Agha Khaniyyah, dan berkat dukungan material yang kuat darinya, Ahmad Khan mendirikan Universitas Islam Moderen yang pertama di Alaikara, yang administrasinya di pegang mulanya oleh orang-orang Inggris.

Ahmad Khan termasuk orang yang pertama kali merumuskan fikrah kembali kepada Al Qur’an saja. Ia menafsirkan Al Qur’an dengan secara modern yang beda dari tafsir manapun. Ia juga berusaha menimbulkan keraguan dalam sunnah Nabi e dan menjauhkan referensi Islam lainnya dalam memahami syari’at. Ia wafat pada tahun 1898 M.

Adapun Jakar Alawi adalah pendiri Jama’ah Ahli Dzikir. Ia lahir di Punjab Pakistan sekitar tahun 1839 M dan konon jago berdebat, temperamental dan sering menghina budaya Islam. Pemerintah Kolonial Inggris yang kala itu sedang menyusun skenario besar yang melibatkan para pendeta dan missionaris, kontan terkesima dengan kepiawaian Jakar Alawi dalam menolak Sunnah. Surat-surat dan tulisan yang berisi motivasi pun datang membanjirinya dari para pendeta. Mereka menjanjikan berbagai bantuan material untuknya dan sangat berterima kasih atas ‘usaha besar’ yang dilakukannya. Hal ini diungkapkan oleh penerjemah surat-surat pribadi Jakar Alawi dalam Bahasa Inggris kepada Majalah Al I’tisham.[1]

Sedangkan Ahmaduddin adalah pendiri ‘Firqah Ummatul Islam’. Ia lahir tahun 1861 di kota Amertasar, India. Ia menulis beberapa buku dan terkenal sebagai kritikus tajam atas sistem bagi waris kaum muslimin dan yang lainnya. Ia wafat tahun 1936 M.

Kemudian disusul oleh Ghulam Ahmad Pervesh. Ia mendirikan sebuah yayasan bernama Ahlul Qur’an, disamping menerbitkan majalah bulanan dan beberapa buku dalam tema ini. Ia lahir tahun 1903 di Punjab Timur, India dan wafat tahun 1958. Ia termasuk tokoh Qur’aniyyin yang paling produktif menulis. Di tahun 1961, semua pemikiran dan keyakinan Pervesh dimejahijaukan secara Islami di hadapan para ulama untuk dimintakan fatwanya. Hal ini dilakukan oleh Madrasah Arabiyah wal Islamiyah di Karachi, dan hasilnya, tak kurang dari seribu ulama dari Pakistan, India, Syam dan Hijaz memfatwakan bahwa Pervesh telah kafir dan keluar dari Islam!

Lihatlah, bagaimana akhir kesudahan dari orang yang menolak sunnah ini… kita jadi teringat akan perkataan sahabat Nabi yang mulia, Imran bin Hushain yang mengatakan: “Wahai kaumku, ambillah Sunnah Nabi dari kami, karena jika tidak demikian kalian pasti akan tersesat”, na’udzu billahi min dzalik…

Sedangkan di negara Arab, gerakan menolak sunnah dan mencukupkan diri dengan Al Qur’an dipelopori oleh dua kelompok:

Kelompok Pertama ialah mereka yang tergabung dalam Madrasah Al Ishlahiyyah yang muncul di Mesir dan dikembangkan oleh Muhammad Abduh bersama gurunya: Jamaluddin Al Afghani. Madrasah ini menyebarkan pemikirannya melalui dua media;

-Media pertama: Majalah Al Manar dengan ketua redaksi Syaikh Muhammad Rasyid Ridha. Majalah ini telah menerbitkan serangkaian artikel yang berjudul: Al Islamu huwal Qur’anu wahdahu (Islam itu hanyalah Al Qur’an saja)[2], yang ditulis oleh DR. Taufiq Shidqy. Syaikh Rasyid Ridha sempat mendukung tulisan tersebut, bahkan memperparahnya ketika membagi sunnah menjadi dien ‘aam (agama umum), yaitu sunnah amaliah yang harus diterima; dan dien khaash (agama khusus) yaitu selainnya dan kita tidak wajib mengikutinya. Akan tetapi Syaikh Rasyid Ridha di akhir hayatnya rujuk dari pemikirannya tersebut, sebagaimana yang dinukil oleh DR. Muhammad Al A’dhami dalam bukunya: Dirasat fil hadits an Nabawy 1/27.

-Media kedua: Buku yang berjudul Adhwa’ ‘alas Sunnah al Muhammadiyyah dan Syaikhul Madhierah, Abu Hurairah; tulisan Mahmud Abu Rayyah. Kitab ini sarat dengan kritikan terhadap hadits dan para perawinya, terutama Abu Hurairah yang paling banyak meriwayatkan hadits. Ia berusaha membenturkan antara satu hadits dengan hadits lain yang sama-sama terdapat dalam kitab shahih, agar menimbulkan keraguan di tengah kaum muslimin, hingga mereka akhirnya tak lagi percaya terhadap keabsahan kitab-kitab tersebut. Tersebab kedua buku tersebut, Universitas Al Azhar Mesir memperkarakan Abu Rayyah ke pengadilan dan melarang penerbitan buku-bukunya.

Kelompok Kedua: Sejumlah sastrawan dan penulis yang juga berasal dari Mesir, akan tetapi dipelihara oleh musuh-musuh Islam dari kalangan orientalis Yahudi dan Nasrani yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di Perancis, Jerman dan Inggris. Para orientalis tersebut berhasil mencuci otak mereka dan mengisinya dengan berbagai syubhat dan racun pemikiran, agar kelak mereka sebarkan ke tengah kaum muslimin, sepulang mereka ke negeri masing-masing.

Di antara tokoh sastrawan yang bukunya penuh dengan kritikan terhadap sunnah dan ajakan untuk meninggalkannya ialah: Toha Husein dan Ahmad Amin[3]

Selain di Mesir, gerakan inkarussunnah juga ada di Sudan, salah seorang tokohnya ialah DR. Hasan At Turabi, sebagaimana yang tersirat dalam bukunya yang berjudul “Tarikh At Tajdid Al Islamy”. Mereka juga ada di Amerika, bahkan merekalah yang mendukung bolehnya wanita menjadi imam bagi laki-laki dalam shalat jama’ah dan melakukan khutbah Jum’at. Di Indonesia pun sempat muncul gerakan serupa dengan nama inkarussunnah.

Insya Allah dalam tulisan berikutnya, Ana akan lanjutkan pembahasan ini. Ilalliqaa’

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Maraji’:

-Majalah Ar Raashid ed. 40.

-Tadwienus Sunnah, Dr. Muh Mathar Az Zahrani.

-Dirasat fil Hadits An Nabawi, Dr. Muh Musthafa Al A’dhamy.


[1] Lihat: Majalah Ar Raashid, edisi 40 hal 9.

[2] Majalah Al Manar, th 9 edisi 7-12. lihat juga: Tadwienus Sunnah An Nabawiyyah hal 59 tulisan DR. Muhammad Mathar Az Zahrani.

[3] Lihat: Tadwinus Sunnah, hal 60.

Komentar
  1. michail huda mengatakan:

    assalamualakum.numpang baca, buat referensi makalah pak.trimakasih

  2. alaikumussalaam. silakan saja.

  3. jay el sent mengatakan:

    syukron katsir, akh atas makalahnya! dua jempol deh,,,,!
    tolong minta ulasan tentang perkembangan firqoh inkarussunnah di Indonesia juga ya! Jazakumulllah…

  4. Jazakallaahu khairan… support yang membangun dan dingin di hati. Di indonesia, kelompok inkarussunnah yg akhir-akhir ini berkembang pesat tidak lagi menamakan dirinya sebagai inkarussunnah… tapi menyamar dengan berbagai kedok seperti JIL, atau Syi’ah. JIL tergolong inkarussunnah karena mereka ingin memahami Islam secara liberal, bebas dari kaidah-kaidah dan aturan, yang itu semua diambil dari Al Qur’an dan Sunnah. Sedangkan Syi’ah juga termasuk inkarussunnah karena mereka mengkafirkan seluruh sahabat kecuali empat orang, sedangkan sunnah Nabi tidak mungkin sampai kepada kita tanpa melalui para sahabat. Kalau sahabatnya saja sudah dikafirkan, bagaimana sunnah yg mereka riwayatkan bisa diterima? Oleh karena itu, kita harus mewaspadai kedua agama sesat tersebut… mereka sama sekali bukan bagian dari Islam, tapi agama yg berdiri sendiri.