Bersama Sang Kekasih (bag.1)

Posted: 10 Juni 2009 in Kisah penuh Ibrah, Tafsir Tematik
Tag:, , , , , ,

kisah para nabiIkhwati fillah, sungguh, tiada kitab yang lebih indah dari Al Qur’an… kitab yang menjelaskan segalanya dengan penuh hikmah. Ketika mengabarkan sesuatu, maka kabarnya adalah yang paling benar dan nyata… lalu ketika menyebut suatu perintah atau larangan, maka itulah perintah dan larangan yang paling utama dan relevan… dan ketika menyebut janji atau ancaman, maka itulah yang paling sesuai dengan hikmah Allah serta fadhilah-Nya.       

            Demikian halnya saat Al Qur’an bercerita tentang para nabi dan rasul, pastilah mereka yang diceritakan lebih sempurna dan mulia dari yang lain. Karenanya, Al Qur’an sering kali mengulang-ulang kisah sebagian Nabi yang dinilai lebih afdhal dari lainnya… ia mengangkat kedudukan mereka lewat ketekunan dalam beribadah, ketulusan cinta mereka kepada Allah dan kegigihan mereka dalam menyeru manusia kepada-Nya dengan penuh kesabaran…

Setelah dalam dua tulisan sebelumnya saya berbicara tentang berbagai masalah seputar kisah-kisah Al Qur’an, maka dalam tulisan kali ini saya akan memulai dengan kisah pertama yaitu tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam. Saya sengaja tidak memulainya dengan kisah Nabi Adam, karena satu dan lain hal. Akan tetapi saya dahulukan kisah Ibrahim mengingat saratnya kisah beliau dengan pelajaran penting, terutama masalah tauhid yang merupakan azas diterimanya amalan kita.

            Agar tidak bertele-tele, marilah kita mulai perkenalan kita dengan Sang Kekasih Allah…

Nama beliau

            Nama Ibrahim, dalam bahasa Arab dapat diucapkan dalam beberapa lafazh: (إِبْرَاهِيْمُ-إِبْرَاهَامُ-إِبْرَاهُوْمُ-إِبْرَاهَُِم-إِبْرَهَُِم) . Jika dijumlah, maka seluruhnya ada 9 nama. Nama ini berasal dari bahasa Suryani yang maknanya ialah: (أب رحيم) atau Bapak yang penyayang[1]. Konon nama beliau sebelumnya ialah Ãbrãm yang artinya Bapak sekalian umat. Allah menamainya dengan ‘Ibrahim’ karena sifatnya yang lembut, sering menangis dan bersimpuh di hadapan Allah.[2]

 

Nasab beliau

            Menurut sejarawan Islam terkenal Al Hafizh Ibnu Katsier, silsilah nasab Nabi Ibrahim sebagai berikut: Ibrahim bin Tãrikh (250 th) –alias Azar- bin Nãhũr (148 th) bin Sãrũgh (230 th) bin Rãghu (239 th) bin Fãligh (439 th) bin ‘Ãbir (464 th) bin Syãlih (433 th) bin Arfakhsyadz (438 th) bin Sãm (600 th) bin Nuh ‘alaihissalaam.

            Keterangan ini beliau nukil dari Ahli Kitab sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab-kita mereka. Sedangkan angka-angka yang tertera di akhir setiap nama adalah umur mereka masing-masing, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab tersebut[3]. Jadi, ayah Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam bernama Ãzar atau Tãrikh, dan beliau merupakan generasi ke sepuluh dari keturunan Nabi Nuh ‘alaihissalaam.

Sedangkan ibunya konon bernama Amielah, dan menurut riwayat lain ia bernama Buna binti Karbata bin Kartsa dari Bani Arfakhzyadz bin Sãm bin Nuh ‘alaihissalaam [4].

Terlepas dari benar tidaknya silsilah nasab di atas, Nabi Ibrahim tetap memiliki hubungan yang erat dengan Nabi Nuh ‘alaihissalaam, Allah ‘azza wa jalla berfirman:

 

وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِ لإِبْرَاهِيمَ

Sungguh, Ibrahim termasuk golongannya (Nuh) (Ash Shãffãt: 83).

            Kata syi’ah dalam ayat ini maknanya orang yang mendukung, artinya Allah menggolongkan Ibrahim ‘alaihissalaam ke dalam pendukung Nabi Nuh ‘alaihissalaam.

Bagaimana bisa demikian, sedangkan antara Ibrahim dan Nuh terdapat rentang waktu yang begitu lama? Benar… betapa pun lamanya rentang waktu tersebut, Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam merupakan pendukung dan penolong Nabi Nuh ‘alaihissalaam karena dia menolong agama yang dibawa oleh Nuh ‘alaihissalaam, dan meninggikan kalimat tauhid ‘lã ilãha illallãh’.[5]

 

Julukan (kun-yah) beliau ‘alaihissalaam

            Dalam Tarikh-nya, Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari berbagai jalur dari ‘Ikrimah, bahwa Nabi Ibrahim konon dijuluki Abu adh Dhaifaan.[6]

 

Kelahiran beliau ‘alaihissalaam

            Beliau lahir sebelah selatan Irak, kemudian menetap di kota Uur yang terletak di negeri Kaldan. Bapaknya berasal dari Kutsa atau Babilonia, sebuah desa di Kufah.[7]

Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam lahir ketika Tãrikh berumur 75 tahun. Di usia itu pula terlahir kedua saudara Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam yang bernama Tãhur dan Hãrãn; kemudian Hãrãn dikaruniai anak yaitu Nabi Luth ‘alaihissalaam. Jadi, Nabi Luth ‘alaihissalaam adalah kemenakan Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam.

Menurut ahli sejarah, Nabi Ibrahim adalah anak tengah dari tiga bersaudara. Mereka juga mengatakan bahwa Hãrãn akhirnya wafat ketika ayahnya masih hidup; ia wafat di tanah kelahirannya, yaitu Negeri Kaldan yang terletak di Babilonia. Inilah riwayat yang shahih dan masyhur menurut ahli sirah dan sejarawan. Riwayat ini juga dishahihkan oleh Ibnu ‘Asakir.[8]

 

Kehidupan Ibrahim ‘alaihissalaam dan manusia di zamannya

            Setelah beranjak dewasa, Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam menikahi Sarah yang konon seorang wanita mandul. Suatu ketika, Tarikh beserta puteranya Ibrahim yang didampingi Sarah dan Luth pergi meninggalkan negeri Kaldan menuju negeri Kan’an. Di tengah perjalanan, mereka singgah di daerah Harran dan di sanalah Tãrikh menemui ajalnya setelah berumur 250 tahun.

            Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju negeri Kan’an yang tak lain adalah Baitul Maqdis (Al Quds). Mereka sempat menetap di Harran yang merupakan negeri bangsa Kasydan ketika itu. Setelah itu mereka singgah pula di daerah Jazirah dan Syam yang penduduknya menyembah tujuh bintang.[9]

 

            Konon seluruh penduduk Damaskus adalah penyembah bintang. Mereka menghadap kutub utara dan melakukan pemujaan terhadap bintang yang tujuh dengan ucapan dan gerakan tertentu. Karenanya, dahulu di tujuh gerbang kota Damaskus masing-masing terpahat gambar salah satu bintang tadi. Di samping itu, mereka juga senantiasa mengadakan hari raya untuknya dan mempersembahkan berbagai kurban di sana. Selain menyembah bintang, mereka juga membikin berhala-berhala yang melambangkan bintang-bintang tadi. Berhala mereka yang terbesar bernama Ba’al dan melambangkan matahari yang merupakan bintang terbesar. Jadi, mereka menyembah bintang tatkala melihatnya, kemudian bila bintang tadi tenggelam mereka beralih kepada berhala.[10]

            Demikianlah kehidupan penduduk Harran penyembah bintang dan berhala. Di zaman itu, semua orang di belahan bumi manapun masih berada dalam kekafiran, kecuali Ibrahim Al Khalil, isterinya dan Luth ‘alaihissalaam keponakannya.

            Melalui Ibrahim lah Allah menumpas segala kebatilan dan syirik tersebut. Yang demikian itu karena Allah telah memberinya petunjuk sejak kanak-kanak, kemudian mengutusnya sebagai Rasul dan memilihnya sebagai kekasih-Nya setelah dewasa. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وَلَقَدْ آَتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ [الأنبياء/51]

“Sungguh sebelum dia (Musa & Harun) telah Kami berikan petunjuk kepada Ibrahim ‘alaihissalaam, dan Kami telah mengetahuinya (sebelum itu)” (Al Anbiya’: 51).

Maksudnya ialah bahwa Ibrahim memang layak mendapatkan itu semua.[11]

            Setelah perkenalan singkat kita akan jati diri Sang kekasih Allah, tibalah saatnya untuk menghayati seluk beluk kisahnya yang menakjubkan itu…

            Marilah kita mulai babak pertama dari kisah beliau, yaitu Ibrahim ‘alaihissalaam sebagai anak yang berbakti…

            Dalam surat Maryam, Allah mengisahkan beberapa orang Nabi… Allah memerintahkan Rasulul-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk mengingat kisah mereka, agar dengan mengingatnya terbayanglah betapa besar karunia Allah yang mengiring perjalanan hidup mereka… kemudian mendorong kita agar senantiasa memohon taufik dari-Nya untuk meneladani keimanan mereka dan mencintai mereka sepenuh hati. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا

“…dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim dalam kitab (Al Qur’an), sesungguhnya ia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi”

 

            Dalam ayat ini, Allah menyifati Ibrahim sebagai ‘shiddieq’ dan ‘nabi’. Shiddieq artinya senantiasa jujur dan mencintai kebenaran. Dialah orang yang benar dalam berkata, berbuat dan bersikap; sekaligus membenarkan semua hal yang harus dibenarkan. Konsekuensi dari semua ini berarti ia memiliki ilmu agung yang meresap dalam hati dan amat berkesan hingga mewariskan rasa yakin dan amalan yang sempurna…

            Selain itu, Ibrahim ‘alaihissalaam adalah Nabi yang paling mulia secara mutlak setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dialah Nabi yang keturunannya mendapat warisan nubuwat dan Al Kitab… dan dialah yang menyeru umat manusia ke jalan Allah. Dialah Nabi yang sabar walau disiksa sedemikian rupa… [12]

 

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ…

Ingatlah ketika dia berkata kepada ayahnya…

Demikianlah Ibrahim al Khalil memulai dakwahnya dengan mengajak Sang ayah ke jalan Allah ‘azza wa jalla. Begitulah seharusnya dakwah dimulai… mulai dari orang tua, yang merupakan orang terdekat kepada kita. Merekalah orang yang paling berhak mendapatkan kebaikan dari sang anak….

            Demikian gigih Ibrahim berusaha agar ayahnya mendapat hidayah… ia mengajak ayahnya berulang kali dengan bahasa yang amat halus…

Dalam mendakwahi ayahnya, ia begitu mengindahkan tata krama seorang anak terhadap orang tua, dan dengan argumentasi yang kuat, ia sabar menghadapi segala gangguan yang diterimanya selama berdakwah…

Inilah yang mesti dicontoh oleh para da’i Islam hari ini. Alangkah butuhnya kita kepada para da’i yang bermanhaj lurus namun berbudi luhur dan pandai bergaul… Tak sekedar menghafal ayat, hadits dan perkataan syaikh Fulan atau fulan… atau berpenampilan multazim dengan celana di atas mata kaki dan jenggot panjang… namun lebih dari itu, ia juga seorang yang amat halus perkataannya dan santun terhadap orang tua dan masyarakat…

Ia sangat baik dalam berdiskusi dengan orang tua saat berbeda pendapat dengannya… Bahkan lebih dari itu, Ibrahim si anak berbakti tidak sekedar beda pendapat dengan ayahnya, namun beda akidah![13]

Ibrahim ‘alaihissalaamberkata kepada ayahnya;

 

…يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا 

“Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?” (Maryam: 42).

 

            Ia memanggil sang ayah dengan kata ‘wahai ayahku’ untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah puteranya. Demikianlah anak yang berbakti, ia demikian antusias terhadap segala sesuatu yang bermanfaat bagi orang tua. Perhatikan… ia tidak langsung menyalahkan ayahnya atau mengritiknya, akan tetapi mengritik apa yang disembahnya dan menampakkan kelemahan sesembahan tersebut bahwa ia tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikit pun… ia tuli, buta dan tiada berguna… lantas apa manfaatnya untuk disembah sedangkan ia jauh lebih lemah dari yang menyembahnya??

            Inilah argumentasi yang tak terkalahkan… yang menjelaskan bahwa penyembahan terhadap sesuatu yang cacat secara fisik dan mental adalah perbuatan yang sangat tercela menurut akal, sekaligus mengisyaratkan bahwa yang pantas untuk disembah ialah Dzat yang maha sempurna…

            Inilah semestinya yang dilakukan oleh seorang da’i dan pemuda muslim ketika melihat ayah atau ibunya atau siapa saja berbuat mungkar. Janganlah ia tergesa-gesa mengritik mereka atau mempermalukannya, akan tetapi lakukan sesuatu yang menunjukkan bahwa maksiat tersebut jelek… dan bahwa perbuatan tersebut tidak layak bagi mereka sama sekali. Dengan begitu, mereka akan terkesan dan mau mendengarkan nasehat si pemuda atau da’i tadi.[14]

 

يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا

Wahai ayahku, sungguh telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku niscaya akan kutunjukkan kepadamu jalan yang lurus (Maryam: 43)

 

            Ibrahim seakan mengatakan: “Janganlah engkau meremehkanku dan menganggapku sok tahu, sebab perkataan ini sebenarnya bukan berasal dariku melainkan dari Dzat yang lebih tahu dari aku maupun kamu… maka janganlah engkau besar hati dan gengsi untuk mendengarkannya, karena aku telah diperintah untuk menyampaikan risalah ini kepadamu, dan inilah ilmu yang tidak diberikan kepadamu”.

Dalam hal ini, Ibrahim masih saja berlemah-lembut kepada ayahnya… ia tidak menyifati ayahnya sebagai orang bodoh yang tidak tahu apa-apa sedangkan dirinya orang berilmu yang tahu segalanya, namun ia mengisyaratkan bahwa “Aku memiliki sebagian ilmu yang tidak ada padamu, maka ikutilah aku” (alias kita sama-sama berilmu, akan tetapi aku memiliki suatu ilmu yang tidak kau miliki); karenanya, demi kebaikan bersama, hendaknya kamu mengikutiku agar terhindar dari kesesatan.

Inilah pelajaran kedua dari Ibrahim si anak budiman, yang mengajarkan kepada semua juru dakwah dan generasi muda Islam agar jangan bersikap ‘sok tahu’ terhadap orang yang didakwahi, namun hendaknya bersikap tawadhu’ dan rendah hati…[15]

 

يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا

Wahai ayahku, janganlah engkau menyembah Syaithan, sungguh Syaithan itu telah durhaka kepada Allah yang Maha Pengasih (Maryam: 44)

 

            Meski si ayah tidak mengaku sebagai penyembah Syaithan, akan tetapi Ibrahim ‘alaihissalaamtelah menjelaskan bahwa peribadatan yang dilakukannya terhadap selain Allah itu merupakan peribadatan kepada Syaithan, karena Syaithanlah yang memerintahkan dan mengajaknya untuk itu.

            ‘Janganlah engkau menyembah Syaithan’ … Menyembah Syaithan?? Bayangan yang terlintas dari kata-kata ini pastilah diingkari oleh setiap orang berakal. Bagaimana tidak, sedangkan Syaithan adalah musuh manusia? Bagaimana mungkin seseorang hendak menyembah musuhnya sendiri!? Ibrahim seakan menyampaikan sebuah pesan yang maknanya: “Engkau tidak sepantasnya menuruti kemauan Syaithan, sebab dia telah durhaka kepada Allah…. Dan ini sungguh tidak layak bagi orang berakal sepertimu”.[16]

 

يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

Wahai ayahku, aku sungguh khawatir bila engkau terkena adzab dari Allah yang Maha Pengasih hingga engkau menjadi sekutu Syaithan (Maryam: 45)

 

Masih saja Ibrahim mengulang-ulang panggilan yang penuh kasih sayang ini; Ya abati… ia seakan hendak membangkitkan naluri kasih sayang seorang ayah kepada anaknya… seakan ia mengatakan bahwa pembicaraanku denganmu adalah pembicaraan antara anak dengan ayahnya…

Namun kali ini Ibrahim mengubah strategi dakwahnya dari persuasi (membujuk) menjadi menakut-nakuti. Pun demikian, cara yang ditempuhnya tetap mengindahkan sopan santun dan tata krama terhadap orang tua. Ia menakut-nakuti ayahnya akan akibat yang buruk tanpa berterus terang bahwa keburukan atau siksa tersebut akan menimpa sang ayah. Ia mengatakan: “Aku sungguh khawatir bila engkau terkena suatu adzab…”. Ia menyebutkan tiga hal: rasa khawatir, terkena, dan suatu adzab… dan ini adalah pelajaran lain bagi pemuda-pemuda kita yang suka tergesa-gesa dalam memvonis seseorang yang bersalah. Mereka terlalu bersemangat dan menggebu-gebu dalam mentahdzir dan menakut-nakuti orang yang bersalah tanpa memperhatikan kejiwaannya, hingga akhirnya orang tersebut justeru putus asa dari rahmat Allah.

            Kita perhatikan pula bahwa dalam hal ini Ibrahim ‘alaihissalaammemulai setiap nasehatnya dengan kata ‘wahai ayahku’… ini merupakan wasilah untuk mencari simpati sang ayah, padahal Ibrahim berada di pihak yang benar sedang ayahnya dalam kebatilan yang nyata.

Akan tetapi, demikianlah adab dalam mengingatkan dan menasehati yang harus diperhatikan setiap da’i di zaman ini.

Mereka harus membuat orang yang didakwahi merasa bahwa para da’i tersebut menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi mereka. Para da’i harus mengemas dakwah mereka dengan kemasan rasa kasih sayang; inilah yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalaamdan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam setelahnya. Sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla:

وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Seandainya engkau bersikap kaku dan kasar, pastilah mereka lari darimu… (Aali Imran: 159)

Memang… alangkah pentingnya sikap pemaaf dan kasih sayang bagi seorang da’i…

           

Namun… bagaimanakah jawaban Sang ayah kepada anaknya yang berbakti ini?

 

 

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آَلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

Sang ayah menjawab: “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti pastilah engkau akan kurajam, maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama!!” (Maryam: 46)

 

            Sang ayah bersikap ketus kepadanya sambil memanggilnya dengan menyebut namanya: ‘Ibrahim!’ … ia tidak memanggilnya dengan sebutan ‘hai anakku’, dan ia mengingkari sikap anaknya yang tidak suka kepada sesembahannya.

            Tak cukup sampai di sini, bahkan sang ayah mengancam akan merajam sang anak dengan batu, kemudian menyuruhnya agar meninggalkan dirinya dalam waktu yang lama…!!

            Subhanallah… semarah itukah ia terhadap Ibrahim ‘alaihissalaam? Mengapa sampai begitu?? Namun demikian, Ibrahim tidak membalas sikap ketus sang ayah dengan sikap yang sama… ia bahkan tak menjawab bantahan ayahnya yang ketus tadi dan tidak melanjutkan perdebatan. Ia justeru membalasnya dengan sangat lemah lembut…ya, sangat lemah lembut!!

قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ …

Ibrahim berkata: “Salaamun ‘alaik…” (semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu)

            Artinya, aku takkan melakukan sesuatu yang tidak menyenangkanmu… salaamun ‘alaik, aku takkan mengganggumu…

Sungguh… benar-benar keluhuran budi yang tiada tara.  Bahkan lebih dari itu…!

سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا

Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Rabb-ku; sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku…(Maryam: 47)

 

Lalu Ibrahim memenuhi janjinya tadi… ia benar-benar memintakan ampun bagi ayahnya… hingga tatkala jelas baginya bahwa sang ayah adalah musuh Allah, ia pun berlepas diri darinya.

            Ringkasnya, Ibrahim ‘alaihissalaamsebagai anak telah bersikap luar biasa dengan membalas kemarahan dan kekasaran ayahnya dengan sangat lemah lembut… (adakah diantara anak kita yang bersikap seperti itu kepada ayahnya meski si anak yang bersalah ketika itu??)

            Akan tetapi, meski perangainya yang demikian lemah lembut, Ibrahim tetap menyatakan jati dirinya yang Islami dengan penuh ketegasan:

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ …

Aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kau sembah selain Allah

 

Artinya, aku akan menjauhimu dan berlepas diri dari semua sesembahanmu selain Allah.

            Demikianlah… semakin dalam celupan nilai-nilai keislaman dalam diri seseorang, semakin jelas pula identitas Islaminya… Inilah Ibrahim ‘alaihissalaamsang kekasih Allah yang tetap menjaga sikap tawadhu’nya… ia berkata kepada ayahnya:

وَأَدْعُو رَبِّي عَسَى أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا

aku akan berdoa kepada Rabb-ku; semoga aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada-Nya (Maryam: 48)

           

Ia juga bertawadhu’ kepada Allah dengan mengatakan ‘semoga’, sebuah kata yang menunjukkan kesopan santunan, sekaligus mengingatkan bahwa yang memperkenankan doa adalah Allah ‘azza wa jalla berkat karunia-Nya semata.

           

Sebelum mengakhiri, berikut ini adalah sebagian mutiara hikmah dari kisah di atas yang sangat bermanfaat bagi da’i Islam seperti Anda, maka camkanlah baik-baik…

  1. Mulailah berdakwah dari kerabat Anda yang terdekat.
  2. Bersikaplah yang santun, lembut dan tawadhu’, terutama kepada orang yang lebih tua atau lebih terhormat dari Anda.
  3. Anda harus lebih sabar menghadapi hal-hal yang tidak mengenakkan dari mereka, karena mereka memiliki hak yang lebih atas diri Anda.
  4. Membalas kejahatan dengan kebaikan merupakan senjata utama seorang anak budiman; maka janganlah mengucapkan sesuatu selain yang baik dan enak di dengar.
  5. Terakhir… ingatlah bahwa seorang muslim sejati tidaklah terpengaruh dengan lingkungan yang rusak di sekitarnya, akan tetapi justeru berusaha memperbaikinya.[17]

 

bersambung ke tulisan berikutnya…

 

 

 


[1]  Lihat: Taajul ‘Aruus 31/280 oleh Murtadha Az Zabidy dan Kitab Al Kulliyaat hal 27, oleh Al Kafmawy.

[2]  Ma’ani Asma-il Anbiya’, hal 3. Sifat-sifat tersebut Allah sebutkan dalam surat Hud ayat 75.

[3]  Lihat: Qashashul Anbiya’ hal 167 oleh Ibnu Katsier rahimahullah.

[4]  Idem, hal 167.

[5]  Lihat: Qisshatu adz dzabh, hal 3 oleh Dr. Yasir Al Burhamy.

[6]  Idem, hal 167.

[7]  Lihat: Atlas Al Qur’an hal 41, oleh Syauqi Abu Khalil. Konon di Babilonia lah terjadinya percobaan pembunuhan beliau dengan dibakar namun tidak terbakar.

[8]  Idem, hal 167.

[9]  Lihat gambar 1.

[10]  Lihat: At Tahrir wat Tanwir (Tafsir Ibnu ‘Asyur) 19/141 oleh Ath Thahir ibnu ‘Asyur.

[11]  Idem, hal 168-169 secara ringkas.

[12] Lihat: Tafsir As Sa’dy hal 494.

[13] Lihat: Mawaqif Imaniah min Qisshah al Khalil Ibrahim u hal 5-6, tulisan Syaikh Mahab Muhammad Utsman.

[14] Lihat: Mawaqif Imaniah min Qisshah al Khalil Ibrahim u hal 6-7, dan Tafsir As Sa’dy hal 494.

[15] Lihat: Tafsir Al Kasysyaf 4/23-24 oleh Az Zamakhsyari.

[16] Idem, hal 6-7 dengan penyesuaian, lihat juga: Tafsir Al Wasith oleh Muhammad Sayyid Thanthawy.

[17]  Lihat: Mawaqif Imaniah min Qisshah al Khalil Ibrahim u hal 7-8 dan Tafsir Asy Sya’rawi dengan penyesuaian dari kami.

Iklan

Komentar ditutup.