Rahasia Syukur, Sabar & Istighfar

Posted: 26 Oktober 2009 in akhirat, fiqih, hidayah, manhaj, Salaf, Tazkiyatunnufus
Tag:, , , , , , , , ,

Dalam mukaddimah kitab Al Waabilus Shayyib, Imam Ibnul Qayyim mengulas tiga hal di atas dengan sangat mengagumkan… Beliau mengatakan bahwa kehidupan manusia berputar pada tiga poros: Syukur, Sabar, dan Istighfar. Seseorang takkan lepas dari salah satu dari tiga keadaan:

1-Ia mendapat curahan nikmat yang tak terhingga dari Allah, dan inilah mengharuskannya untuk bersyukur. Syukur memiliki tiga rukun, yang bila ketiganya diamalkan, berarti seorang hamba dianggap telah mewujudkan hakikat syukur tersebut, meski kuantitasnya masih jauh dari ‘cukup’. Ketiga rukun tersebut adalah: a- Mengakui dalam hati bahwa nikmat tersebut dari Allah. b-Mengucapkannya dengan lisan. c-Menggunakan kenikmatan tersebut untuk menggapai ridha Allah, karena Dia-lah yang memberikannya.

Inilah rukun-rukun syukur yang mesti dipenuhi…

2-Atau, boleh jadi Allah mengujinya dengan berbagai ujian, dan kewajiban hamba saat itu ialah bersabar. Definisi sabar itu sendiri meliputi tiga hal: a-Menahan hati dari perasaan marah, kesal, dan dongkol terhadap ketentuan Allah. b-Menahan lisan dari berkeluh kesah dan menggerutu akan takdir Allah. c-Menahan anggota badan dari bermaksiat seperti menampar wajah, menyobek pakaian, (atau membanting pintu, piring) dan perbuatan lain yang menunjukkan sikap ‘tidak terima’ thd keputusan Allah.

Perlu kita fahami bahwa Allah menguji hamba-Nya bukan karena Dia ingin membinasakan si hamba, namun untuk mengetes sejauh mana penghambaan kita terhadap-Nya. Kalaulah Allah mewajibkan sejumlah peribadatan (yaitu hal-hal yang menjadikan kita sebagai abdi/budak-nya Allah) saat kita dalam kondisi lapang; maka Allah juga mewajibkan sejumlah peribadatan kala kita dalam kondisi sempit.

Banyak orang yang ringan untuk melakukan peribadatan tipe pertama, karena biasanya hal tersebut selaras dengan keinginannya. Akan tetapi yang lebih penting dan utama adalah peribadatan tipe kedua, yang sering kali tidak selaras dengan keinginan yang bersangkutan.

Ibnul Qayyim lantas mencontohkan bahwa berwudhu di musim panas menggunakan air dingin; memperguli isteri cantik yang dicintai, memberi nafkah kepada anak-isteri saat banyak duit; adalah ibadah. Demikian pula berwudhu dengan sempurna dengan air dingin di musim dingin dan menafkahi anak-isteri saat kondisi ekonomi terjepit, juga termasuk ibadah; tapi nilainya begitu jauh antara ibadah tipe pertama dengan ibadah tipe kedua. Yang kedua jauh lebih bernilai dibandingkan yang pertama, karena itulah ibadah yang sesungguhnya, yang membuktikan penghambaan seorang hamba kepada Khaliqnya.

Oleh sebab itu, Allah berjanji akan mencukupi hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman Allah: ‘Alaisallaahu bikaafin ‘abdahu’, yang artinya: “Bukankah Allah-lah yang mencukupi (segala kebutuhan) hamba-Nya?’ (Az Zumar: 36).

Tingkat kecukupan tersebut tentulah berbanding lurus dengan tingkat penghambaan masing-masing hamba. Makin tinggi ia memperbudak dirinya demi kesenangan Allah yang konsekuensinya harus mengorbankan kesenangan pribadinya, maka makin tinggi pula kadar pencukupan yang Allah berikan kepadanya. Akibatnya, sang hamba akan senantiasa dicukupi oleh Allah dan termasuk dalam golongan yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

“Inna ‘ibaadi laisa laka ‘alaihim sulthaanun wa kafaa birabbika wakiela” (Sesungguhnya, engkau (Iblis) tidak memiliki kekuasaan atas hamba-hamba-Ku, dan cukuplah Rabb-mu (Hai Muhammad) sebagai wakil (penolong)” (Al Isra’: 65).

Hamba-hamba yang dimaksud dalam ayat ini adalah hamba yang mendapatkan pencukupan dari Allah dalam ayat sebelumnya, yaitu mereka yang benar-benar menghambakan dirinya kepada Allah, baik dalam kondisi menyenangkan maupun menyusahkan. Inilah hamba-hamba yang terjaga dari gangguan syaithan, alias syaithan tidak bisa menguasai mereka dan menyeret mereka kepada makarnya, kecuali saat hamba tersebut lengah saja.

Sebab bagaimana pun juga, setiap manusia tidak akan bebas 100% dari gangguan syaithan selama dia adalah manusia. Ia pasti akan termakan bisikan syaithan suatu ketika. Namun bedanya, orang yang benar-benar merealisasikan ‘ubudiyyah (peribadatan) kepada Allah hanya akan terganggu oleh Syaithan di saat dirinya lengah saja, yakni saat dirinya tidak bisa menolak gangguan tersebut… saat itulah dia termakan hasutan syaithan dan melakukan pelanggaran.

dengan demikian, ia akan beralih ke kondisi berikutnya:

3-Yaitu begitu ia melakukan dosa, segera lah ia memohon ampun (beristighfar) kepada Allah. Ini merupakan solusi luar biasa saat seorang hamba terjerumus dalam dosa. Bila ia hamba yang bertakwa, ia akan selalu terbayang oleh dosanya, hingga dosa yang dilakukan tadi justeru berdampak positif terhadapnya di kemudian hari. Ibnul Qayyim lantas menukil ucapan Syaikhul Islam Abu Isma’il Al Harawi yang mengatakan bahwa konon para salaf mengatakan: “Seseorang mungkin melakukan suatu dosa, yang karenanya ia masuk Jannah; dan ia mungkin melakukan ketaatan, yang karenanya ia masuk Neraka”. Bagaimana kok begitu? Bila ALlah menghendaki kebaikan atas seseorang, Allah akan menjadikannya terjerumus dalam suatu dosa (padahal sebelumnya ia seorang yang shalih dan gemar beramal shalih). Dosa tersebut akan selalu terbayang di depan matanya, mengusik jiwanya, mengganggu tidurnya dan membuatnya selalu gelisah. Ia takut bahwa semua keshalihannya tadi akan sia-sia karena dosa tersebut, hingga dengan demikian ia menjadi takluk di hadapan Allah, takut kepada-Nya, mengharap rahmat dan maghfirah-Nya, serta bertaubat kepada-Nya. Nah, akibat dosa yang satu tadi, ia terhindar dari penyakit ‘ujub (kagum) terhadap keshalihannya selama ini, yang boleh jadi akan membinasakan dirinya, dan tersebab itulah ia akan masuk Jannah.

Namun sebaliknya orang yang melakukan suatu amalan besar, ia bisa jadi akan celaka akibat amalnya tersebut. Yakni bila ia merasa kagum dengan dirinya yang bisa beramal ‘shalih’ seperti itu. Nah, kekaguman ini akan membatalkan amalnya dan menjadikannya ‘lupa diri’. Maka bila Allah tidak mengujinya dengan suatu dosa yang mendorongnya untuk taubat, niscaya orang ini akan celaka dan masuk Neraka.

Demikian kurang lebih penuturan beliau dalam mukaddimah kitab tadi, semoga kita terinspirasi dengan tulisan yang bersahaja ini…

Komentar
  1. abu usamah mengatakan:

    alhamdulillah…ktmu blog antm.

  2. Ibn Abdullah mengatakan:

    Assalamu’alaikum ustadz…., ana bersyukur dapat membaca artikel yang antum tulis diatas, semoga tercatat sebagai amal shaleh disisi Allah. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita semua hamba yang selalu bersyukur kala mendapat limpahan nikmat dan bersabar saat Allah menguji kita dengan cobaan serta segera beristighfar ketika kita terjerumus dalam dosa. Amin…

  3. azlina mengatakan:

    ALLAHUAKBAR.. sebak dada baca artikel ini. Terimakasih saya ucapkan kerana ianya amat menyentuh hati & memberi motivasi utk istiqomah dlm memohon ampun kpdNYA walaupun selalu teringat akan kejahilan diri. Mudah2an ALLAH terima amal ibadah kita semua, insyaALLAH…

  4. Alaikumussalaam, aamien atas doanya dan jazakallaahu khairan atas komentarnya. Semuanya terpulang pertama kali kepada Allah, kemudian kepada Al Imam Ibnul Qayyim yg menulisnya… sedangkan ana hanyalah penerjemah, tak lebih dari itu.

  5. Dzalika fazhlullaahi yu’thiehi man yasyaa’u. TErima kasih pula telah memberi komentar, yang hebat adalah penulisnya yaitu Ibnul Qayyim, sedangkan saya cuma menerjemahkan…

  6. Abu syaef mengatakan:

    Assalamuailaikum ustadz.. Tergugah dan tercerahkan hati ini membaca tulisan akhi. Maka dr itu Ana mohon izin mengcopy dan menyebarkannya..Jazakallaahu khairan katsiran

  7. Alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh, Al Fadhlu lillahi wahdah tsumma lil Imam Ibnil Qayyim, wamaa ana illa mutarjimun miskin. Silakan copas dan sebarkan dengan menyertakan alamat situs asli. Jazakallaahu khairan atas komentarnya

  8. Slamet Santoso mengatakan:

    si agil kok ngak nongol lagi..

    dah terkapar kali yaa….

    pusing mikirin ahmadibejad

  9. abdullah mengatakan:

    jazakallah khairan bagus ustadz, penuntut ilmu diwilayah jogja solo

  10. siti eva mengatakan:

    Asslm wr wb , ustadz saya seorg ibu rmh tangga yg haus akan siraman rohani. blog ini bagaikan setetes air dipadang yang tandus. Alhamdulillah smoga kita sll diberi kesabaran, sll bersyukur dan tak lupa istirgfar. amin

  11. Wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakaatuh… Alhamdulillah, senang bisa berbagi ilmu…jazakillaahu khairan atas komentarnya.

  12. nailah mengatakan:

    bagus :’)

    jazakallah

  13. Ummu ali mengatakan:

    Ustad,mau tanya,dlm mghdpi musibah,apa mksd dr,Alloh tdk akn mmbbni seseorang sesuai dg ksnggupannya,apakah ssorg yg luput dr musibah tsb dianggap blm sanggup menghadapinya ato bagaimana ustad?jazakumulloh khoir.

  14. Dalam tafsir Ath Thabary disebutkan bahwa maksudnya ialah Allah tidak membebani hamba-Nya dengan ibadah-ibadah yang di luar kemampuan si hamba. Jadi, semua ibadah yg Allah perintahkan –seberat apa pun itu– pada dasarnya adalah mampu dilaksanakan oleh manusia. Kalau pun dalam suatu kondisi seseorang tidak bisa melaksanakan ibadah tsb, maka dia akan mendapat keringanan atau bahkan tidak perlu lagi melaksanakannya. Misal: Sholat 5 waktu adalah rukun Islam yg wajib dilaksanakan setiap muslim, namun dalam kondisi perang atau bepergian, kita mendapat keringanan shg shalat yg mulanya 4 rokaat menjadi 2 rokaat saja. Namun ketika seseorang kehilangan akalnya, baik karena pingsan, stroke parah, dan semisalya; maka dia tidak wajib lagi melaksanakan shalat. Begitu maksudnya… demikian pula orang yang terkena suatu musibah dari Allah, pada hakikatnya Allah tahu bahwa orang tsb kuat menerima musibah tadi, karena Allah tidak menurunkan musibah untuk membinasakan dia. Sedangkan orang yg terhindar dari suatu musibah pasti ada hikmah di baliknya, boleh jadi karena orang tsb memang tidak kuat jika tertimpa musibah tsb, shg Allah tidak mengujinya dgn sesuatu diluar kemampuannya agar dia tidak celaka. Karenanya, Rasulullah menganjurkan kita agar senantiasa minta afiat (kesehatan & keselamatan) dari Allah dan jangan sekali-kali minta diuji, sebab belum tentu kita bisa sabar dgn ujian tsb. Namun kalau sudah terjadi, ya kita wajib sabar.
    Wallaahu a’lam.

  15. abu husain mengatakan:

    Assalamu’alaikum ustadz…

    Dalam pergaulan di masyarakat umum seringkali terlontar ungkapan ‘kesabaran itu ada batasnya’ ? Apakah benar memang ada batasnya ya ustadz?

    mohon penjelasannya

  16. Wa’alaikumussalaam…

    Kelihatannya, batas kesabaran itu terpulang pada masalah yang dihadapi dan orang yg menghadapinya. Tentunya tidak semua masalah memerlukan kesabaran dalam kadar yg sama, dan tidak setiap orang yg menghadapi masalah memiliki kesabaran yg sama. Contohnya, sabarnya para Nabi tentu beda dengan sabarnya selain mereka… demikian pula terhadap masalah yg dihadapi. Kalau terkait urusan hidup dan mati, tentu orang tidak bisa bersabar lama-lama… tapi kalau kaitannya dengan yang lain, mungkin bisa sabar lebih lama. Tapi, yg penting ialah kita harus tahu apa itu sabar? Sabar ialah menahan diri, baik lisan, hati, maupun anggota badan dari hal-hal yg mendatangkan murka Allah, atau menunjukkan ketidak sukaan terhadap keputusan Allah. Sabar hukumnya wajib, dan orang yang sabar boleh saja bersedih atas musibah yg menimpa, boleh saja menangis, akan tetapi -jika ia ditimpa musibah kematian, umpamanya- ia tidak boleh berteriak-teriak, menampar-nampar pipi, meratapi mayit, menyobek pakaian, atau mengucapkan kata-kata yg menunjukkan ketidak terimaannya terhadap takdir Allah tsb.

  17. Ummu Aisyah mengatakan:

    Jazakallohu khoiran ustadz… artikelnya sangat bermanfaat bagi ana… Ana izin share ya ustadz…

    Ada hal yg ingin ana tanyakan juga… Bagaimanakah caranya bersabar ketika seorang istri terpaksa harus bekerja di kantoran krn terikat kontrak sejak kuliah dan tidak dpt resign sebab dendanya sangat besar? Urusan rumah tangga malah dilakukan oleh suami yg sangat kasihan pd istrinya yg kelelahan.. Apakah dgn sikap yg sering bolos kerja dan menunjukkan kinerja buruk di kantor adalah bentuk ketidaksabaran atas takdir Allah? mohon nasehatnya ustadz… Jazakallohu khoiran…

  18. Wallahu a’lam… ana tidak tahu harus menjawab apa?

  19. ibnu ahmad mengatakan:

    Jazakallah khoiran atas kopi pastenya, akhi