Isteri Teladan, Zainab binti Hudair

Posted: 15 Maret 2010 in Kisah, wanita
Tag:, , , , , , ,

Asy Sya’bi menceritakan bahwa setelah Syuraih menikah dengan perempuan dari Bani Tamim, ia berkata kepadanya: “Hai Sya’bi… nikahilah wanita Bani Tamim, karena merekalah wanita yang sebenarnya”.

“Bagaimana bisa begitu?” tanyaku.

“Aku pernah lewat di kampung Bani Tamim, maka kulihat ada seorang wanita yang duduk di atas bantal, dan di depannya ada gadis dengan wajah tercantik yang pernah kulihat. Aku pun mampir untuk minta minum kepada si wanita…” kata Syuraih.

“Minuman apa yang kau suka” tanya si wanita.

“Apa saja deh, seadanya” jawabku.

“Beri dia susu, karena nampaknya ia orang dari jauh” perintah si wanita.

Setelah minum, kutatap si gadis tadi dan aku kagum terhadapnya…

“Siapa dia?” tanyaku.

“Puteriku” jawab si wanita.

“Siapa namanya” tanyaku lagi.

“Zainab binti Hudair dari Bani Tamim, tepatnya Bani Hanzhalah” katanya.

“Dia masih ‘kosong’ atau sudah ada yang meminang?” tanyaku lagi.

“Masih ‘kosong’ ” jawabnya.

“Maukah kau menikahkannya denganku?” tanyaku.

“Ya, kalau kamu pantas untuknya” jawabnya.

Maka kutinggalkan dia dan aku pulang ke rumahku untuk tidur siang sejenak…. Tapi aku tak bisa tidur nyenyak, dan selepas shalat dhuhur, kuajak beberapa sahabatku yang merupakan pemuka orang Arab dan kami tetap bersama hingga melaksanakan shalat ‘Asar berjama’ah. Tiba-tiba kulihat paman si gadis duduk di mesjid,

“Abu Umayyah (panggilan Syuraih), apa hajatmu?” tanyanya.

Maka kuceritakan keinginanku kepadanya, kemudian ia menikahkanku… mereka yang hadir pun mendoakan keberkahan bagiku lalu kami bubar dari majelis itu.

Belum lagi aku sampai ke rumah, aku menyesal !! Aku berkata dalam hati: “Aku telah menikahi suku Arab yang paling keras dan kasar”… segera terlintas dalam benakku gambaran wanita-wanita Bani Tamim dan betapa kerasnya hati mereka.

Aku pun berniat menceraikannya, namun aku segera berubah pikiran dan ingin mencoba terlebih dahulu… kalau aku mendapati apa yang kusukai padanya maka kubiarkan, namun jika tidak maka kuceraikan.

Beberapa hari kulalui bersamanya… lalu datanglah wanita-wanita kerabatnya memberi hadiah untuknya. Setelah ia tinggal di rumahku, kukatakan kepadanya:

“Hei, tahu gak sih bahwa sunnahnya jika seorang isteri bertemu suaminya, hendaknya si suami dan isteri shalat dua roka’at”… lalu aku bangkit untuk shalat. Ketika kulihat kebelakang, ternyata ia juga sedang shalat. Maka usai shalat, datanglah gadis-gadis kecil pelayannya kepadaku, lalu mereka melepaskan pakaian luarku dan memberiku selimut yang telah dicelup za’faran (sejenis wewangian).

Begitu rumahku sepi dari orang-orang, kudekati dia dan kuulurkan tanganku ke arahnya…

“Tunggu dulu…” katanya.

“Wah, dia bukan orang lugu… apes juga nasibku” kataku dalam hati. Maka kuucapkan puji syukur kepada Allah dan shalawat atas Nabi.

“Aku adalah wanita Arab… dan demi Allah, aku tak pernah melangkahkan kakiku kecuali kepada apa yang diridhai Allah, sedangkan engkau adalah lelaki asing dan aku belum mengenal kepribadianmu” katanya.

“Maka jelaskan kepadaku apa saja yang kau sukai supaya kulakukan, dan apa saja yang tidak kau sukai supaya kutinggalkan” lanjutnya.

Maka kujelaskan kepadanya bahwa aku menyukai hal ini dan itu, dan aku tidak menyukai hal ini dan itu.

“Bagaimana menurutmu tentang besan-besanmu, apa kau suka jika mereka mengunjungimu?” tanyanya.

“Aku adalah seorang qadhi (hakim), dan aku khawatir jika mereka bosan denganku” jawabku.

Maka aku pun melalui malam terindah dan tinggal selama tiga hari bersamanya. Setelah itu aku mendatangi ke majelis sidang, dan tidak pernah kulihat dia pada suatu hari, melainkan dia lebih baik dari sebelumnya. Hingga pada akhir tahun, saat aku masuk rumah, tiba-tiba kudapati seorang perempuan tua yang menyuruh-nyuruh dan melarang-larang…!!

“Hai Zainab, siapa perempuan ini?” tanyaku.

“Ibuku” jawabnya.

“Oh, marhaban (selamat datang) !” sambutku.

“Hai Abu Umayyah, bagaimana engkau dan keadaanmu?” tanyanya.

“Baik, Alhamdulillah” jawabku.

“Bagaimana isterimu?” tanyanya.

“Ia adalah isteri terbaik dan pendamping paling pas. Engkau telah mendidik dan mengajarinya dengan sangat baik” jawabku.

“Sesungguhnya, seorang isteri akan menjadi sangat buruk perilakunya bila mengalami dua hal: bila mendapat segalanya dari sang suami, dan bila melahirkan bayi laki-laki. Maka bila kau dapati sesuatu yang tidak kau sukai padanya, cambuk saja. Sebab tidak ada penghuni rumah yang lebih buruk bagi seorang lelaki melebihi isteri yang bodoh dan manja” katanya.

Demikianlah si ibu hanya mendatanginya sekali dalam setahun. Isteriku lantas bertanya setelah itu: “Bagaimana semestinya besan-besanmu mengunjungimu?”.

“Sesuka mereka” jawabku.

“Aku tetap hidup bersamanya selama dua puluh tahun, dan selama itu tak pernah ada sikapnya yang kucela dan aku juga tak pernah marah kepadanya”.[1]


[1] Disadur dari Tarikh Dimasyq 23/51 dan 55/88, tulisan Al Hafizh Ibnu Asakir.

Komentar
  1. ISTANA BUKU ISLAM mengatakan:

    Assalamualaikum..salam ukhuwah ustadz, ana link-kan di blog ana tadz, jazakumulloh khoir

  2. abu muzzaki mengatakan:

    Jazakulloh khoir,tulis antum bagus,tolong di lanjutkan.

  3. […] “Aku tetap hidup bersamanya selama dua puluh tahun, dan selama itu tak pernah ada sikapnya yang kucela dan aku juga tak pernah marah kepadanya”.[1] […]

  4. Abu Zayd Al-'Ashriy mengatakan:

    Ustadz, ana merasa aneh dengan cerita diatas, ana yang ga paham atau memang ceritanya sedikit aneh. Keanehannya adalah terlihat ketika percakapan ini:

    —————————————————————————Hingga pada akhir tahun, saat aku masuk rumah, tiba-tiba kudapati seorang perempuan tua yang menyuruh-nyuruh dan melarang-larang…!!

    “Hai Zainab, siapa perempuan ini?” tanyaku.

    “Ibuku” jawabnya.

    “Oh, marhaban (selamat datang) !” sambutku.

    “Hai Abu Umayyah, bagaimana engkau dan keadaanmu?” tanyanya.

    “Baik, Alhamdulillah” jawabku.

    “Bagaimana isterimu?” tanyanya.

    “Ia adalah isteri terbaik dan pendamping paling pas. Engkau telah mendidik dan mengajarinya dengan sangat baik” jawabku.
    ————————————————————————–

    Padahal pada paragraf pertama dijelaskan:

    —————————————————————————“Aku pernah lewat di kampung Bani Tamim, maka kulihat ada seorang wanita yang duduk di atas bantal, dan di depannya ada gadis dengan wajah tercantik yang pernah kulihat. Aku pun mampir untuk minta minum kepada si wanita…” kata Syuraih. Setelah minum, kutatap si gadis tadi dan aku kagum terhadapnya…

    “Siapa dia?” tanyaku.

    “Puteriku” jawab si wanita.
    ————————————————————————–

    Masa Qadhi Syuraih yang terkenal dengan kecerdasannya itu lupa wajah mertuanya padahal baru satu tahunan menikah dengan anaknya. Dan kecil kemungkinan si Ibu sedang pake cadar di rumah sehingga Syuraih ga tahu. Aneh kan stadz?😀

  5. Ga aneh menurut ana… karena dlm kisah tsb tidak disebutkan bahwa Syuraih masuk ke rumah si wanita tua, ia hanya sekedar lewat di perkampungan Bani Tamim yg zhahirnya ialah melihat si wanita dan puterinya di luar rumah, jadi hampir bisa dipastikan bahwa si wanita mengenakan cadar ketika dilihat oleh Syuraih. Justru yg tidak pas ialah kalo dibilang bahwa si wanita berada dalam rumah, karena berarti terjadi pengintipan oleh Syuraih. Ini tentu bukanlah akhlak seorang Tabi’in macam Syuraih, apalagi dia Qadhi yg tahu hukum mengintip seseorang di rumahnya…

  6. Abu Zayd Al-'Ashriy mengatakan:

    Oh menurut ustadz begitu ya, memang sih ada banyak kemungkinan stadz. Namun ana pribadi tetap merasa aneh [dan keanehan ini sifatnya tentu saja relatif bagi setiap orang]. Anehnya karena Syuraih sampai akhir tahun menikah dengan istrinya masih tetap aja ga tahu wajah mertuanya.

    Dari perkataan antum diatas ana malah punya pikiran baru yakni mungkin juga si Ibu meyakini wajibnya cadar sampai2 ketika duduk diluar rumah dia tetap memakai cadar [ini cuma sekedar asumsi] dan malah anaknya yang berparas cantik [bahkan tercantik menurut Syuraih] tidak memakai cadar sebab menganggap cadar itu mustahab tidak sampai derajat wajib. So, si anak [sebelum jadi istri Syuraih] santai2 aja memajang paras cantiknya di luar rumah padahal bisa memicu timbulnya fitnah kecuali jika si anak tidak merasa wajahnya cantik [sekali lagi ini cuma asumsi]. Dengan jalan berpikir seperti ini jalan cerita diatas jadi bisa dikompromikan bagi ana pribadi.

    Jazaakallahu khair…

  7. Syukron atas asumsinya… setelah ana cek lagi, Ibnu Asakir meriwayatkan kisah tersebut dlm beberapa versi, salah satunya mengatakan sbb:
    قال: والله إني لا قبلت يوما من جنازة مظهرا , فأصابني الحر قال ورأيت سقيفة قال فقلت لو عدلت إلى هذه السقيفة فاستظللت واستسقيت ماء فلما صرت إلى السقيفة إذا باب دار وإذا امرأة نصف قاعدة خلفها جارية شابة رود عليها ذوابة لها قد تسترت بها
    تاريخ دمشق [55 /87]
    artinya:
    Syuraih berkata: Demi Allah, aku belum pernah kembali dari mengantar jenazah siang-siang hingga kepanasan seperti ini. Hmm… ada baiknya jika aku berteduh di balik naungan ini dan minta minum kepada pemiliknya, kata syuraih dalam hati. Ketika aku berada di bawah naungan, tiba-tiba ada perempuan yang setengah duduk di depan pintu rumah. Di belakang si wanita ada seorang gadis belia membawa kipas dan menutupi wajahnya dengannya… dst (Tarikh Dimasyq 55/87).
    Dari riwayat ini bisa kita simpulkan bahwa begitu si gadis tahu ada laki-laki ajnabi yang melihatnya, ia segera menutupi wajahnya.
    Mungkin aneh bagi kita kalo kita tidak tahu wajah ibu mertua kita setelah setahun menikahi puterinya. Tapi bagi seorang qadhi yang sibuk dengan urusan banyak orang dan hanya bertemu satu kali dalam setahun dengan ibu mertuanya –sebagaimana zhahir kisah di atas– bisa saja ia lupa dengan wajah si mertua. Ini sangat mungkin terjadi.
    kesimpulannya, insya Allah tidak ada keanehan dlm cerita ini… kalau pun ada, toh ini bukan hadits nabi tapi hanya kisah seorang tabi’in…That’s it!

  8. Abu Zayd Al-'Ashriy mengatakan:

    Iya stadz, ana pernah dengar bahwa para ulama longgar dalam masalah seperti [periwayatan selain hadits Nabi apalagi kisah tabi’in] ini. Ana cuma sok2an menganalisa aja stadz😀 Syukran untuk tambahan jalur riwayatnya stadz. Jazaakallahu khair

  9. […] “Aku tetap hidup bersamanya selama dua puluh tahun, dan selama itu tak pernah ada sikapnya yang kucela dan aku juga tak pernah marah kepadanya”.[1] […]