Hebat, Bung Karno pun mengagumi Wahhabi !

Posted: 6 Desember 2011 in sejarah inkarussunnah

Oleh: Artawijaya

Kepada A. Hassan, Soekarno bercerita keinginannya membaca buku “Utusan Wahabi.” Ia juga bercerita telah menerjemahkan buku biografi Ibnu Saud. “Bukan main hebatnya ini biografi! Saya jarang menjumpai biografi yang begitu menarik hati,” ujar Bung Karno.

Sepucuk surat nun jauh dari tanah seberang dikirimkan kepada Tuan A. Hassan, guru utama Persatuan Islam (Persis). Sang pengirim bukanlah sembarang orang. Ia tokoh muda bangsa yang kala itu berada dalam pengasingan di Ende, Nusa Tenggara Timur. Soekarno, nama pengirim surat itu, tak lain adalah sosok yang kemudian hari menjadi  founding father dan presiden pertama Republik Indonesia. Soekarno sosok yang berapi-api, cerdas, dan ambisius.

Dari tanah pengasingan yang sepi, Soekarno berkirim surat kepada Tuan Hassan, begitu A. Hassan biasa disapa pada saat itu.  Bagi Soekarno, A. Hassan adalah sahabat sekaligus guru dalam mempelajari Islam. Ia mengagumi karya-karyanya, termasuk juga mengagumi cara pandangnya terhadap ajaran-ajaran Islam. Kepada Tuan Hassan, Soekarno berkirim kabar dan bercerita panjang lebar mengenai berbagai hal, di antaranya soal taklid, takhayul, kejumudan umat Islam, dan lain sebagainya. Ia juga menceritakan keinginannya untuk mendapatkan bahan-bahan bacaan Islam, terutama karya-karya A. Hassan. Di antara karya A. Hassan yang ingin sekali ia baca adalah buku berjudul, “Utusan Wahabi”.

Sepucuk surat itu ia tulis dengan ketulusan, sebagai berikut:

Endeh, 1 Desember 1934

Assalamu’alaikum,

Jikalau saudara memperkenankan, saya minta saudara mengasih hadiah kepada saya buku-buku yang tersebut berikut ini: Pengajaran Sholat, Utusan Wahabi, Al-Muctar, Debat Talqien. Al-Burhan Complete, Al-Jawahir.

Kemudian, jika saudara bersedia, saya minta sebuah risalah yang membicarakan soal “sajid” (kalangan sayyid atau habaib, red). Ini buat saya bandingkan dengan alasan-alasan saya sendiri tentang hal ini. Walaupun Islam zaman sekarang menghadapi soal yang beribu-ribu kali lebih besar dan lebih rumit dari pada soal “sajid” itu, tetapi toch menurut keyakinan saya, salah satu kejelasan Islam Zaman sekarang ini, ialah pengeramatan manusia yang menghampiri kemusyrikan itu. Alasaan-alasan kaum “sajid” misalnya, mereka punya “brosur kebenaran”, saya sudah baca, tetapi tidak bisa menyakinkan saya. Tersesatlah orang yang mengira, bahwa Islam mengenal satu “Aristokrasi Islam”. Tiada satu agama yang menghendaki kesamarataan lebih daripada Islam. Pengeramatan manusia itu adalah salah satu sebab yang mematahkan jiwa suatu agama dan umat, oleh karena pengeramatan manusia itu melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebathilan!

Sebelum dan sesudahnya terima itu buku-buku yang saya tunggu-tunggu benar, saya mengucapkan terimakasih.

Wassalam,

Soekarno

Pada kesempatan lain, Soekarno juga berkirim kabar kepada A. Hassan, memohon agar guru Persatuan Islam (Persis) itu membantu perekonomian keluarganya, dengan membeli karya terjemahannya mengenai Ibnu Saud. Soekarno menceritakan kekagumannya kepada Ibnu Saud setelah menerjemahkan sebuah karya berbahasa Inggris mengenai sosok tersebut.

“Bagi saya buku ini bukan saja satu ikhtiar ekonomi, tetapi adalah pula satu pengakuan, satu confenssion. Ia menggambarkan Ibnu Saud dan Wahhabism begitu rupa, mengkobar-kobarkan elemen amal, perbuatan begitu rupa hingga banyak kaum ‘tafakur’ dan kaum pengeramat Husain cs (Syiah, pen) akan kehilangan akal nanti sama sekali,” tulisnya.

Kepada Tuan Hassan, ia menuliskan sebagai berikut:

Endeh, 12 Juli 1936

Assalamu’alaikum,

Saudara! Saudara punya kartu pos sudah saya terima dengan girang. Syukur kepada Allah SWT punya usul Tuan terima!.

Buat mengganjal saya punya rumah tangga yang kini kesempitan, saya punya onderstand dikurangi, padahal tadinya sudah sesak sekali buat mempelajari segala saya punya keperluan, maka sekarang saya lagi asyik mengerjakan terjemahan sebuah buku Inggris yang mentarikhkan Ibnu Saud. Bukan main hebatnya ini biografi! Saya jarang menjumpai biografi yang begitu menarik hati. Tebalnya buku Inggris itu, format Tuan punya tulisan “Al-Lisaan”, adalah 300 muka, terjemahan Indonesia akan menjadi 400 muka (halaman, pen). Saya saudara tolong carikan orang yang mau beli copy itu barangkali saudara sendiri ada uang buat membelinya? Tolonglah melonggarkan rumah tangga saya yang disempitkan korting itu.

Bagi saya buku ini bukan saja satu ikhtiar ekonomi, tetapi adalah pula satu pengakuan, satu confenssion. Ia menggambarkan Ibnu Saud dan Wahhabism begitu rupa, mengkobar-kobarkan elemen amal, perbuatan begitu rupa hingga banyak kaum ‘tafakur’ dan kaum pengeramat Husain c.s akan kehilangan akal nanti sama sekali. Dengan menjalin ini buku, adalah suatu confenssion bagi saya bahwa, walaupun tidak semua mufakat tentang system Saudisme yang juga masih banyak feudal itu, toch menghormati dan kagum kepada pribadinya itu yang “toring above all moslems of his time; an Immense man, tremendous, vital, dominant. A gian thrown up of the chaos and agrory of the desert, to rule, following the example of this great teacher , Mohammad”. Selagi menggoyangkan saya punya pena buat menterjemahkan biografi ini, jiwa saya ikut bergetar karena kagum kepada pribadi orang yang digambarkan. What a man! Mudah-mudahan saya mendapat taufik menjelaskan terjemahan ini dengan cara yang bagus dan tak kecewa. Dan mudah-mudahan nanti ini buku, dibaca oleh banyak orang Indonesia, agar bisa mendapat inspirasi daripadanya. Sebab, sesungguhnya buku ini penuh dengan inspirasi. Inspirasi bagi kita punya bangsa yang begitu muram dan kelam hati. Inspirasi bagi kaum muslimin yang belum mengerti betul-betul artinya perkataan “Sunah Nabi”, yang mengira, bahwa Sunah Nabi SAW itu hanya makan kurma di bulan puasa dan cela’ mata dan sorban saja !.

Saudara, please tolonglah. Terimakasih lahir-batin, dunia-akherat.

Wassalam,

Soekarno

Kepada A. Hassan, Soekarno juga bercerita mengenai ibu mertuanya yang telah meninggal dan kritik yang dialamatkan kepadanya karena ia dan keluarga tidak mengadakan acara tahlilan untuk almarhumah ibu mertuanya.

Dalam surat tertanggal  14 Desember 1935, Soekarno menulis:

“Kaum kolot di Endeh, di bawah ajaran beberapa orang Hadaramaut, belum tenteram juga membicarakan halnya tidak bikin ‘selamatan tahlil’ buat saya punya ibu mertua yang baru wafat itu, mereka berkata bahwa saya tidak ada kasihan dan cinta pada ibu mertua itu. Biarlah! Mereka tak tahu-menahu, bahwa saya dan saya punya istri, sedikitnya lima kali satu hari, memohonkan ampunan bagi ibu mertua itu kepada Allah. Moga-moga ibu mertua diampuni dosanya dan diterima iman Islamnya. Moga-moga Allah melimpahkan Rahmat-Nya dan Berkat-Nya…”

Begitulah cuplikan surat-surat Soekarno kepada sahabatnya, Tuan A. Hassan. Sahabatnya yang pada masa lalu mendapat stigma “Wahabi” dan dianggap membawa paham baru soal Islam. Unik memang persahabatan Soekarno dan A. Hassan. Karena pada masa selanjutnya, dua orang sahabat ini berbeda pandangan soal hubungan agama dan negara.

Meski sahabat karib, A. Hassan tak segan-segan mengkritik Soekarno yang begitu mengidolakan sekularisasi yang diusung oleh tokoh sekular Turki, Mustafa Kamal Attaturk. Bagi A. Hassan, Islam tak bisa dipisahkan dari urusan negara. Kritik A. Hassan terhadap paham sekular Soekarno bisa dilihat dalam buku “Islam dan Kebangsaan“, sebuah karya fenomenal A. Hassan yang mengkritisi kelompok nasionalis-sekular pada masa itu.

Toh, meski berbeda pandangan, ketika Soekarno di penjara di Bandung, Tuan Hassan dan para anggota Persatuan Islam tetap membesuknya sebagai sahabat. [voa-islam.com] Kamis, 01 Dec 2011

Demikian tulisan Artawijaya yang dimuat situs voaislam.com.

Berikut ini ada catatan nahimunkar.com:

Oleh-oleh Presiden Soekarno untuk A Hassan

Kitab suci (palsu) Tadzkirah yang sering ditenteng M Amin Djamaluddin ketua LPPI, menurut cerita dia, adalah oleh-oleh Soekarno atas pesanan A Hassan. Karena sebelum berangkat untuk berkunjung ke India, Presiden Soekarno menawari A Hassan, mau dibawakan oleh-oleh apa. Maka A Hassan minta dibelikan kitab suci (palsu) Ahmadiyah bernama Tadzkirah Wahyu Muqaddas, yang disebut sebagai kumpulan wahyu untuk nabi (palsu) Mirza Ghulam Ahmad.

Betapa dahsyatnya penghancuran aqidah Islam dalam kitab Tadzkirah itu, tidak dapat dianggap kecil sama sekali. Karena di dalamnya ada “wahyu” yang sangat sesat, jelas-jelas wahyu syetan. Bunyinya:

اَنْتَ مِنِّىْ وَاَناَ مِنْكَ

Engkau (Mirza Ghulam Ahmad) dari-KU (Allah) dan Aku darimu. (Tadzkirah, halaman 436).

Astaghfirullah… sebegitu sesatnya. Namun anehnya, orang-orang liberal bahkan ada yang julukannya kyai tokoh NU masih pula tidak malu membela Ahmadiyah. (lihat nahimunkar.com 30 April 2008,  Ngawurnya A. Mustofa Bisri dalam Membela Ahmadiyah http://nahimunkar.com/49/ngawurnya-a-mustofa-bisri/)

Sesatnya kitab Tadzkirah itu dan rangkaiannya, dapat dibaca di buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Kyai kok Bergelimang Kemusyrikan, terbitan Saudi Arabia, dan terbitan Surabaya, Pustaka Nahi Munkar. (Pustaka Nahi Munkar Surabaya, 031 70595271, 5911584 atau 08123125427, dan Jakarta Toko Buku Fithrah 021 8655824, 71490693, HP. 081319510114).

dicopas dari: (nahimunkar.com)

Komentar
  1. Yaafieya mengatakan:

    MasyaAllah..
    Rahimakallah, ir. Soekarno..

  2. necel mengatakan:

    Kok bisa-bisanya Soekarno menganggap wahabi hebat. Ga habis pikir aku

  3. Begitulah orang yg obyektif dan inshaf. Walaupun akhirnya cenderung kpd sekuler tapi penilaiannya masih obyektif terhadap lawan.

  4. Kholid Idun Muhammad mengatakan:

    tapi sayang, kenapa soekarno hanya mengaguminya saja……..

  5. STAirCraft AU mengatakan:

    karena hidayah hanya dari Allah, manusia hanya bisa berusaha aja … banyak manusia yang sebenarnya mengetahui bahwa ini adalah kebenaran .. tetapi karena kerasnya hati dan belum diberikannya hidayah oleh Allah .. maka mereka cuma sebatas mengaguminya untuk dirinya sendiri …….., semoga Allah memberikan hidayah dan rahmat-Nya kepada kita semua .

  6. abdullah mengatakan:

    ustadz, bagaimana hukumnya mengutip berita dari situs2 seperti VOA-islam.com, arrahmah.com, eramuslim.com , soalnya para ikhwah salafy sering ribut masalah ini di facebook …

    baru saja ustadz Abu muawiyyah hammad menulis bolehnya menukil kebenaran dari ahlul bid’ah di situsnya al-atsariyyah.com, langsung saja ada yg membantah tulisan be.liau, bahwa itu termasuk turut serta menyebarkan syi’ar agama ahlul bid’ah dgn mempromosikan situs2 mereka / buku2 mereka..

  7. mondang sari mengatakan:

    Apakah anta sdh tau apa itu wahabi? ada buku bagus berjudul “Hanya Islam bukan Wahabi” silakan dibaca.

  8. Tentu dong… kami berulangkali mengkaji sejarah dan pemikiran mereka dari sumber2 aslinya yg berbahasa Arab, bukan terjemahan spt itu… percuma saja kalau yg anda tawarkan buku terjemahan.

  9. Agung Triatmojo mengatakan:

    Amin yaa rabb. Harus banyak belajar nichh…. .

  10. anto mengatakan:

    Soal wahabi, sy pikir ada 3 kelompok : yg pertama benar2 tdk tahu apaitu wahabi, yg kedua tahu wahabi itu pahamnya ktnya keras dll tetapi tdk paham bahwa ada 2 sebutan wahabi : yaitu wahabi kira2 abad kedua hijriah (ini yg salah) dan sebutan wahabi pada kira2 diatas abad 11 hijriah,(ini yg memurnikan aqidah), dan yg ketiga paham benar bahkan ada yg lulusan timur tengah tetapi krn ada kepentingan kelompok dan spal dunia maka pura2 tdk tahu dan gencar mencerca wahabi (yg benar). dan ini kita semua tahu siapa mereka.

  11. Ya sudah, bagi yg berpendapat itu tidak boleh ya ga’ usah memusuhi yg membolehkan… lagipula masalah ‘menukil kebenaran dari ahlul bid’ah’ sangat mirip dengan kasus ‘meriwayatkan hadits dari ahlul bid’ah’. Dalam masalah kedua ini, para ulama ahlussunnah sendiri berbeda pendapat. Ada yg menolak riwayat ahli bid’ah secara keseluruhan (imam Malik, Ibnu Sirin). Ada yg menerimanya secara keseluruhan. Adapula yg menerima dgn syarat sbb:
    1- Dia harus seorang yg jujur.
    2- Dia bukan ahli bid’ah yg sampai ke tingkat kafir (alias bid’ahnya ghairu mukaffirah).
    Namun setelah menyepakati dua syarat tadi, ada sebagian dari mereka yg menetapkan syarat tambahan spt: “Dia tidak boleh meriwayatkan hadits yg mendukung bid’ahnya” (madzhab banyak ulama). Sedangkan imam Syafi’i, Abu Hanifah, Yahya bin Sa’id Al Qaththan dan Ali ibnul Madini mensyaratkan bhw si mubtadi’ ini harus meyakini haramnya berdusta, barulah riwayatnya bisa diterima. Ada lagi pendapat lain yg menerima riwayat Ahli bid’ah ttt, spt Murji’ah, dan Qadariyyah (selama ia bukan da’inya). Namun menolak riwayat Jahmiyyah. Artinya, kalau bid’ahnya tergolong ringan maka diterima, namun yg pertengahan maka dgn syarat si perawi tsb tidak mengajak orang lain kpd bid’ahnya; adapun yg parah maka ditolak secara total.

    Masing-masing punya hujjah dlm berpendapat, namun yg rajih adalah pendapat para Imam yg tidak menolak secara keseluruhan, sebab itu akan menyebabkan banyaknya hadits-hadits yg tertolak karena tidak diriwayatkan oleh selain mereka. Bahkan dlm shahihain pun banyak dijumpai perawi2 tsiqah/shaduq yg tidak bersih dari tuduhan bid’ah, spt qadariyyah, murji’ah, khawarij, atau tasyayyu’ (mengedepankan Ali di atas Usman, atau di atas Abu bakar dan Umar. Yg pertama dianggap “tasyayyu’ ringan”; sedang yg kedua dianggap berat. Namun tetap meridhai Abu Bakar dan Umar. Kalau sampai mencela Abu Bakar, Umar, Utsman dll; maka dia menjadi “Rafidhi”… dan yg terakhir ini riwayatnya tertolak secara total). Lihat: Dhawabitul Jarhi wat Ta’dil (hal 132-143).

    Intinya… Kalau mayoritas ulama Ahlussunnah saja membolehkan periwayatan hadits dari Ahli Bid’ah (dgn syarat2 ttt), padahal hadits itu berkaitan dengan masalah agama… masalah halal-haram… masalah akidah… dan masalah penting2 lainnya; maka sekedar menukil kebenaran dari mereka tentunya lebih layak untuk dibolehkan. Toh separah apa pun bid’ah mereka tetap saja mereka tidak lebih parah dari orang kafir. iya Khan? Nah, ketika seorang kafir mengatakan kebenaran ttg Islam misalnya… lalu kita menukil perkataan tsb dgn mengutip sumbernya, apakah berarti kita mempromosikan agama kekafiran???

    Diharap dengan sangat kepada ikhwah salafiyyin agar jangan -ma’af2- kaku dan gegabah dalam menilai suatu masalah ijtihadiyyah. Para ulama yg berbeda pendapat saja bisa saling toleransi, kenapa antum-antum yg bukan ulama ko’ tidak bisa? Apa antum lebih wara’ dan lebih cemburu kpd sunnah dibanding mereka?

  12. masmondol mengatakan:

    Wahabi apa sih? Maaf sy seorang mukallaf

  13. Wahhabi itu julukan yg diberikan oleh kolonial Inggris dlm menjuluki gerakan pembaharuan agama yg diserukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di semenanjung Arab sekitar 3 abad yg lalu. Beliau berusaha memurnikan akidah umat Islam di daerah sana yg telah tercemar oleh berbagai keyakinan batil, khurafat, dan bahkan kemusyrikan. Beliau menyeru masyarakat Arab di wilayah tsb untuk kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, sesuai dengan ajaran ahlussunnah wal jama’ah. Setelah berdakwah puluhan tahun, hasilnya mulai kelihatan dengan bersatunya suku-suku Arab di Nejed (skrg Riyadh dan sekitarnya) dan berdirinya sebuah daulah (negara) yg menerapkan Islam. Daulah ini lambat-laun makin kokoh dan luas wilayahnya sehingga mengkhawatirkan pihak musuh, baik kalangan tradisionalis (ahli bid’ah) maupun pihak kafir. Shg muncullah berbagaimacam tuduhan thd dakwah beliau yg direkayasa oleh musuh2nya.

  14. أبو عبدالرحمن mengatakan:

    السلام عليكم…

    هل ترجمة الإمام ابن سعود المترجم من اللغة الإنكليزية عند السيد سوكارنو موجود حقا؟؟!
    لوكان كذلك أريده بشكل pdf لا بأس…
    جزاك الله خيرا
    والسلام عليكم…

  15. والله ما أدري أموجود أم لا، اسأل كاتب المقالة “أرتاويجايا”، فإني مجرد ناقل

  16. أبو هيثم mengatakan:

    فضيلة الأستاذ أبو حذيفة حفظه الله, قد سمعت من أحد الإخوة السلفيين -خريج الجامعة الإسلامية بالمدينة النبوية- أنه حصل الحوار بينك وبين رشيد رضا, هل يمكنني أن أحصل على نسخة الحوار لو سمحت؟ لو كانت الإجابة نعم, كيف أحصل على ذالك؟ جزاك الله خيرا على ما بذلت من الجهد والإجتهاد في نشر المنهج الصحيح والدفاع عنه وأهله

  17. الحوار كان بيني وبين أخيه عبد الرحيم، وليس بيني وبين رشيد رضا، ولكنه غير مسجل وإنما ردود عبر البريد الألكتروني