Arsip untuk ‘manhaj’ Kategori

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:

Ciri-ciri ahlul haq (pengikut kebenaran) ialah:

  • Tidak terkenal dengan nama tertentu di tengah-tengah manusia, yang nama tersebut menjadi simbol golongan tersebut.
  • Mereka tidak mengikat dirinya dengan satu amalan, sehingga dijuluki karena amalan tersebut, dan dikenal dengan amalan tersebut tanpa dikenal dengan amal lainnya. Ini merupakan penyakit dalam beribadah, yaitu ibadah yang terikat (ubudiyyah muqayyadah). Adapun ibadah yang mutlak (ubudiyyah muthlaqah) akan menjadikan pelakunya tidak dikenal dengan nama tertentu dari jenis-jenis ibadah yang dilakukannya. Ia akan memenuhi setiap panggilan ibadah apa pun bentuknya. Dia memiliki ‘saham’ bersama setiap kalangan ahli ibadah. Dia tidak terikat dengan model, isyarat, nama, pakaian, maupun cara-cara buatan. (lebih…)

Seputar Ziarah Kubur

Ziarah kubur bagi wanita

Ziarah kubur bagi laki-laki adalah hal yang disunnahkan, sedangkan bagi wanita masih diperselisihkan hukumnya. Sebagian ulama menganjurkan, sebagian lagi mengharamkan , sebagian lagi memakruhkan, dan sebagian lagi membolehkan dengan syarat tidak sering melakukannya. Masing-masing punya dalil dalam hal ini, dan setelah diamati, agaknya pendapat terakhirlah yang rajih karena bisa mengkompromikan dalil-dalil yang ada, wallahu a’lam. Pun demikian, ada syarat-syarat lain yg harus dipenuhi, yaitu: tidak boleh berhias, tidak boleh meratap, bisa mengendalikan diri, dan memakai busana muslimah.

Berkaitan dengan ziarah kubur bagi wanita, Novel mengatakan: “Sebagaimana kaum pria, para wanita juga diizinkan untuk berziarah, selama tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh Agama. Bahkan mereka dianjurkan untuk menziarahi kubur para Nabi dan ulama untuk mendapatkan keberkahan mereka” [1]. (lebih…)

Antara Bid’ah dan Mashalih mursalah

            Saudaraku seiman, yang akan kita bahas kali ini sangatlah penting, yaitu persamaan dan perbedaan antara bid’ah dan mashalih mursalah. Dalam buku Mana Dalilnya 1, si penulis tak bisa membedakan antara bid’ah dan mashalih mursalah, akibatnya  ia menggolongkan hal-hal yang merupakan mashalih mursalah ke dalam bid’ah[1]). Seperti ketika menjelaskan  bid’ah wajib, ia mengatakan:

Bid’ah wajib ialah bid’ah yang harus dilakukan demi menjaga terwujudnya kewajiban yang telah ditetapkan Allah. Diantaranya adalah: (lebih…)

Seputar Istighatsah

 Definisi istighatsah ala jahiliyah

Pembaca yang budiman, sungguh mengherankan memang, ketika orang yang hidup di abad 21 dengan berbagai kemajuan Iptek-nya masih berpikir ala jahiliyah. Masih mending jika keyakinan tersebut berangkat dari kebodohan karena ia tinggal di tengah hutan belantara, atau di daerah terpencil yang tak pernah mengenyam pendidikan. Namun jika ia mengaku ‘terpelajar’ dan masih mempercayai takhayul bahkan mengajak orang kepada hal tersebut, maka orang ini perlu kita waspadai… pasti ada udang di balik batu! Saya sudah berusaha untuk khusnudzon terhadap Novel dari awal buku ini. Akan tetapi, setelah membaca masalah istighatsah di akhir bukunya, saya terbakar rasa cemburu… cemburu akibat dilanggarnya hak-hak Allah atas nama syariat! Coba perhatikan bagaimana si Qubury ini mendefinisikan istighatsah (hal128): (lebih…)

Bissmillahirrahmaanirrahiem…

Adalah musibah besar ketika umat kehilangan ulama-ulama robbani-nya. Musibah ini mengakibatkan sejumlah mafsadat nyata. Yang paling besar di antaranya ialah: makin beraninya ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu dalam mendakwahkan bid’ah dan kesesatan mereka. Imam Al Aajurry mengatakan dalam kitab “Akhlaqul Ulama”: “ Para ulama ibarat pelita manusia, penerangan negara, dan tonggak kejayaan umat. Mereka ibarat sumber hikmah yang selalu memancing kemarahan setan. Melalui mereka, hati pengikut kebenaran akan hidup, dan hati pengikut kesesatan akan mati. Perumpamaan mereka di bumi ibarat bintang-bintang di langit, yang menjadi petunjuk di kegelapan malam saat berlayar di tengah lautan. Jika bintang-bintang itu hilang, bingunglah para pelaut tak karuan; dan begitu cahayanya terlihat, barulah mereka bisa melihat di kegelapan”.

(lebih…)

Sebelumnya, saya ucapkan ‘syahr mubarak’ atas masuknya bulan Ramadhan 1431 H, semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakan shiyam dan qiyam di dalamnya, dan menjadikan kita insan-insan yang bertakwa… aamin.

Amma ba’du… Pembahasan tentang asma’ was sifat memang menimbulkan polemik sejak dahulu. Polemik ini muncul akibat kekeliruan  sebagian pihak dalam memahaminya. Ada golongan yang menolak asma’ was sifat sebagai bagian dari tauhid, dan mengatakan bahwa pembagian tauhid menjadi 3 (rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ was sifat) adalah bid’ah-nya orang-orang ‘wahhabi’… Mereka mengatakan bahwa pembagian tersebut tidak ada dalilnya sama sekali. Kepada mereka kita pantas bertanya: Dalil apakah yang kalian maksudkan? Kalau dalil berupa ayat atau hadits atau ijma’ yang bunyinya: “Tauhid terbagi menjadi tiga: uluhiyyah, rububiyyah dan asma’ was sifat”, ya MEMANG TIDAK ADA… sebagaimana tidak adanya dalil (ayat, hadits, atau ijma’) yang mengatakan bahwa Syarat sahnya shalat ada enam umpamanya, yaitu: Islam, mumayyiz, thaharah, masuk waktu, niat, dan menghadap kiblat… atau syarat wajib zakat ada dua, yaitu nisab dan haul… atau syarat haji ada sekian, dst… demikian pula rukun-rukunnya, wajib-wajibnya, dan sunnah-sunnahnya yang banyak kita jumpai dalam kitab-kitab fikih… Akan tetapi anehnya mereka yg menolak pembagian tauhid menjadi tiga tidak pernah menolak hal-hal yg tersebut di atas… padahal semuanya sama-sama tidak punya dalil yg bunyinya: “Syarat sahnya shalat terbagi menjadi bla-bla-bla…” dst. ANEH… padahal mereka semestinya konsekuen dong… kalau pembagian tauhid menjadi tiga mereka tolak krn dianggap tidak ada dalilnya, maka pembagian yg berkenaan dgn syarat ibadah, atau rukun2nya juga harus mereka tolak.

Untuk menjawab syubhat ini, perlu kita ketahui bahwa apa yg dilakukan ulama Ahlussunnah (yg mereka juluki Wahhabi tsb) sebenarnya tidak berbeda dgn yg dilakukan para fuqoha’. Masing-masing mendasarkan pembagiannya dengan apa yg disebut istiqraa-un nushuush, artinya mengumpulkan dan menelaah nash-nash atau dalil-dalil yg ada tentang suatu masalah, lalu mengambil kesimpulan berdasarkan dalil-dalil tersebut. Bila kita teliti secara obyektif, ternyata Al Qur’an sendiri membedakan antara tauhid rububiyyah, yg artinya mengimani Allah sebagai pencipta, penguasa, dan pengatur alam semesta; dengan tauhid uluhiyyah yang merupakan tuntutan agar manusia hanya mengesakan Allah dlm semua bentuk ibadahnya… Buktinya, dalam banyak ayat Allah menyebutkan bhw pabila kaum musyrikin ditanya: siapakah yg menciptakan langit dan bumi? Niscaya mereka menjawab: Allah… (lihat: QS. Al Ankabut: 61; Luqman: 25; Az Zumar: 38 dll) pun demikian mereka tetap dianggap musyrik… dan tauhid mereka yg seperti itu tidak bisa menyelamatkan mereka dari api neraka. Ini jelas menunjukkan bahwa mentauhidkan Allah memiliki dua bagian yang harus dipenuhi, dan tidak cukup sekedar salah satunya… yaitu mentauhidkan Allah dengan hal-hal yg berkaitan dengan diri-Nya (yg tak lain adalah tauhid rububiyyah) dan mentauhidkan Allah lewat amal ibadah kita (alias tauhid uluhiyyah)…

Lantas apa dalilnya asma’ was sifat? Sebenarnya tauhid asma’ was sifat merupakan bagian dari rububiyyah, karena ia berkaitan dengan sifat-sifat dan perbuatan Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi berhubung tidak semua orang yg mengimani rububiyyah Allah juga mengimani asma’ was sifat-Nya, maka para ulama memisahkan  masalah asma’ was sifat dalam bagian tersendiri. Tentunya mereka punya dalil dlm masalah ini, yaitu firman Allah dlm QS. Al Furqan: 60 yg berbunyi:

{وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا} [الفرقان: 60]

Jika dikatakan kepada mereka (kaum musyrikin): “Sujudlah kepada Ar Rahman”, mereka mengatakan: “Apa itu Ar Rahman? Apa kami hendak bersujud kepada apa yg kau perintahkan?” dan perintah itu menjadikan mereka semakin lari dari iman.

Demikian pula yang terjadi dlm perjanjian Hudaibiyyah tatkala Nabi menyuru Ali bin Abi Thalib agar menulis: Bissmillahirrahmanirrahiem, Suhail bin Amr yg merupakan duta kaum musyrikin menyela: “Ar Rahman? Demi Allah, aku tidak tahu apa itu… tapi tulis saja: Bismikallaahumma, sebagaimana yg dahulu kamu tulis”. (HR. Bukhari no 2581).

Ini menunjukkan bahwa kaum musyrikin yg mengimani rububiyyah Allah ternyata tidak mengimani salah satu nama Allah, yaitu Ar Rahman, yg mengandung sifat kasih sayang… Kesimpulannya, tauhid memiliki tiga unsur yg harus dipenuhi: Rububiyyah, Uluhiyyah, dan asma’ was sifat. Bila salah satunya tidak dipenuhi, berarti pelakunya masih tergolong ‘kafir’  dan belum ‘muwahhid’, entah itu kafir dalam masalah rububiyyah, atau kafir dlm uluhiyyah, atau kafir dalam masalah asma’ was sifat. Namun khusus yg terakhir, tidak semua yang keliru dalam menyikapi asma’ was sifat lantas kita katakan sebagai  ‘orang kafir’, akan tetapi tergantung bagaimana kekeliruannya. Jika ia menolak semua asma’ dan sifat Allah, berarti dia tergolong Jahmiyyah yang menurut ijma’ ulama dianggap kafir, sebagaimana yg dinukil oleh Imam Bukhari dalam bagian awal dari kitab beliau yg berjudul: Khalqu Af’aalil ‘Ibaad. Namun bila mereka mengatakan bahwa Allah hanya memiliki nama tanpa memiliki sifat, maka merekalah golongan Mu’tazilah yg dianggap sesat dan ahli bid’ah oleh para ulama. Namun ada juga golongan yang ‘bingung’ dan terombang-ambing di antara kedua golongan tadi, yaitu kaum Asy’ariyah. Di satu sisi mereka membantah kesesatan golongan Jahmiyyah dan Mu’tazilah… namun di sisi lain mereka mengikuti kedua golongan tadi. Mereka menetapkan sejumlah sifat bagi Allah seperti: wujud, qidam, baqa’, mukhalafatu lil hawaditsi, qiyamuhu binafsihi, ilmu, iradah, qudrah, dst… yang jumlahnya kadang sampai dua puluh, dan mereka namakan sifat wajib bagi Allah… lalu ada pula sifat Ja-iz, dan ada pula sifat Mustahil.

Perlu kita tanyakan kepada mereka: “Apa dalil kalian atas pembagian tersebut? Adakah dalil dari Al Qur’an atau Sunnah yg mengatakan seperti itu?”. Tentunya tidak ada sama sekali… sebab itu merupakan pembagian yg muncul dari pengaruh ilmu kalam (filsafat)… yang sama sekali tidak pernah ada di masa para salaf (sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in).

Mereka menetapkan sifat wujud (ada) bagi Allah, demikian pula sifat ilmu (mengetahui/berilmu), qudrah (mampu), hayah (hidup), khalq (menciptakan), iradah (berkehendak), sami’ (mendengar), bashir (melihat), dan sejumlah sifat lainnya… akan tetapi menolak sifat istiwa’ di atas Arsy, atau berada di atas ‘Arsy. Mereka juga menolak bahwa Allah turun ke langit dunia pada setiap sepertiga malam terakhir… menolak sifat al-’uluww, atau Allah berada di atas… menolak bahwa Allah memiliki wajah yg hakiki yg bukan berarti keridhaan… menolak bahwa Allah memiliki dua tangan yang hakiki… memiliki jari jemari… memiliki kaki yg hakiki… menolak bahwa Allah bisa marah, atau tertawa, atau ridha yang hakiki…

Sedangkan Ahlussunnah meyakini semua sifat tadi sebagai sifat yg hakiki bagi Allah, tanpa menafikan, menyerupakan, menakwilkan, atau menanyakan bagaimana hakikatnya. Ahlussunnah meyakini bahwa Allah memiliki wajah yg sesuai dengan kebesaran dan keagungan diri-Nya, yang tidak serupa dengan wajah makhluknya, dan tidak menakwilkan wajah sebagai keridhaan-Nya… sebab wajah adalah sifat yg berkaitan dengan Dzat Allah, sedangkan keridhaan berkaitan dengan perbuatan Allah… dan Ahlussunnah juga tidak menanyakan bagaimana hakikat wajah Allah tersebut.

Kita patut bertanya kepada mereka yg menolak sebagian sifat Allah dan menakwilkannya dengan dalih bahwa konsekuensi sifat tersebut adalah tajsim (menjasmanikan Allah) atau tasybih (menyerupakan Allah dgn makhluk-Nya); Kita tanyakan kepada mereka: “Bukankah Allah itu ada, hidup, mendengar, melihat, dsb…?” Mereka pasti mengiyakan… lalu kita katakan: “Kita pun ada, hidup, mendengar dan melihat”, apakah berarti keberadaan, kehidupan, sifat mendengar dan melihat kita sama dengan keberadaan, kehidupan, mendengar dan melihat-nya Allah?? Tentu tidak bukan… nah, begitu pula sifat-sifat lainnya… kita harus sikapi dengan cara yang sama.

Allah memiliki wajah, kedua tangan, jari-jemari, kaki dan lain-lain sesuai yg Allah tetapkan bagi Diri-Nya, atau yg ditetapkan oleh Rasul-Nya; dan sifat-sifat dzat tersebut jelas hakiki alias benar-benar ada… sebagaimana manusia yg juga memiliki wajah, kedua tangan, jari-jemari, kaki dll… namun jika kita menetapkan bahwa Allah memiliki wajah, dll; tidak berarti wajah-Nya, tangan-Nya, dll seperti wajah, tangan, dan anggota badan manusia… namun ia juga bukan berarti keridhaan, kekuasaan, dll; karena manusia benar-benar memiliki wajah, dan wajahnya tidak sama dengan keridhaan-nya… namun kita tidak boleh menanyakan bagaimana wajah, tangan, dan sifat-sifat dzat Allah lainnya.

Dengan begitu, kita bisa mengimani dan menyikapi semua masalah asma’ was sifat dengan benar. yaitu dengan memperhatikan empat syarat tadi: tidak menafikan, tidak menyerupakan, tidak menakwilkan dan tidak menanyakan bagaimana hakikatnya/caranya. Sedangkan mereka yg menolak sebagian sifat dzat atau sifat perbuatan Allah tadi, sebenarnya telah terjerumus terlebih dahulu dalam tasybih atau ta’thil (menyerupakan Allah dgn makhluk-Nya atau membatalkan sifat tsb). Bagaimana bisa begitu? Cobalah kita ikuti pola pikir mereka… ketika mereka mendengar bhw Allah itu punya tangan, atau berada di atas ‘Arsy, atau turun ke langit dunia, atau punya wajah, dst… segera terbayang dlm benak mereka: tangan manusia, wajah manusia, atau seseorang yg duduk di atas singgasana, atau seseorang yg turun dari suatu tempat, dan semisalnya… kemudian mereka segera mengingkari itu semua karena takut menyerupakan Allah dgn makhluk-Nya. INI JELAS BAYANGAN YG KELIRU !! sehingga kesimpulannya pun keliru. Siapa bilang tangan Allah seperti tangan manusia? atau wajah Allah spt wajah manusia? atau Allah berada di atas ‘Arsy spt orang duduk di atas singgasana? atau Allah turun ke langit dunia spt orang turun dari suatu tempat? Itu khan bayangan Anda pribadi, sedangkan kami tidak mengatakan spt itu…

Lantas bila mereka mengatakan: “Oh bukan begitu, wajah Allah itu artinya keridhaan… sedangkan tangan-Nya artinya kekuasaan… lalu istiwa’ di atas Arsy artinya istaula ‘alaih (menguasai ‘Arsy tsb) dst”  sebagaimana keyakinan mereka orang-orang Asy’ariyah. Mereka lupa, bahwa dengan menakwilkan sifat-sifat tersebut sebenarnya mereka terjerumus dalam ta’thil… alias membatalkan hakikat sifat tersebut. Kepada mereka kita katakan: “Siapakah yg lebih tahu tentang Allah, Dia atau kalian?” … “Kalaulah Allah telah mengatakan bahwa dirinya memiliki semua sifat dzat dan perbuatan tadi, lantas mengapa kalian menafikannya dan menakwilkannya tanpa dalil?”

Lalu kita bisa membikin analogi sederhana berikut: “Kalian memiliki wajah, tangan, kaki, bisa berbicara, bisa berjalan, berlari, dst”, lalu makhluk lain seperti monyet umpamanya, juga memiliki wajah, tangan, kaki, bisa bicara, berjalan, berlari dst… apakah semua sifat ini sama? tentu tidak bukan? Bahkan wajah, tangan, kaki, cara bicara, cara berjalan, dst yg dimiliki si Anton beda dengan yang dimiliki si Budi… Nah, bila sesama makhluk, bahkan sesama manusia saja berbeda-beda dlm semua sifat tadi, dan sifat-sifat tersebut juga tidak kita takwilkan dengan selainnya… maka bukankah perbedaan antara Khaliq dengan makhluk adalah lebih besar lagi?

kalau kita tidak menakwilkan bahwa wajah monyet adalah keridhaannya, atau tangan monyet berarti kekuasaannya, dst… lantas mengapa kita harus menakwilkan sifat-sifat Allah?

Terkadang, mereka menolak sebagian sifat Allah karena menganggap hal tsb mustahil dan memiliki konsekuensi yg tidak layak bagi Allah… contohnya sifat bahwa Allah senantiasa turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Mereka menolak sifat ini karena menurut ‘akal sakit’ mereka, sifat ini menimbulkan beberapa konsekuensi yg tidak baik, yaitu:

1-Allah akan senantiasa turun dan tidak naik-naik, karena sepertiga malam selalu bergeser dari satu tempat ke tempat berikutnya.

2-Allah berada di bawah alam semesta, alias diliputi oleh alam semesta… dan ini berarti ada yg lebih besar dari Allah.

3-Kalau Allah bisa turun, berarti dia berada di ‘atas’, alias dia diliputi oleh suatu arah dan tempat, dan ini -menurut mereka- adalah sesuatu yg mustahil bagi Allah.

Tentunya asumsi-asumsi tersebut bertolak dari kesalahan besar yg mereka lakukan sebelumnya… yaitu TASYBIH !! Ya… Mereka hendak lari dari tasybih namun justeru terperangkap ke dalamnya… Mereka yg menolak sifat tersebut pada hakikatnya telah menyerupakan Allah dgn manusia yg lemah yg tidak mungkin melakukan hal tersebut kecuali dengan konsekuensi-konsekuensi tadi… Memang, manusia tidak bisa turun kecuali konsekuensinya dia berada lebih rendah dari apa yg ada di atasnya… dst. Tapi Siapa bilang Allah seperti itu? Itu khan asumsi mereka… Sekarang marilah kita bikin sebuah perbandingan sederhana: Cobalah kita lihat salah satu makhluk Allah yg bernama Matahari. Dia adalah satu dari sekian banyaknya makhluk Allah… matahari yg jumlahnya hanya satu itu, ternyata mampu melakukan banyak hal yg tidak masuk akal… Di saat yg sama, dia menimbulkan panas yg luar biasa di suatu daerah, namun di daerah lain sebaliknya… dia terbit di suatu tempat, namun tenggelam di tempat lain, dia menimbulkan siang di satu lokasi, namun malam di lokasi lainnya… padahal mataharinya ya itu-itu juga dan gerakannya cuma searah… Namun mengapa mereka tidak menolak kemampuan matahari tersebut? Jawabnya karena mereka tidak menyerupakan matahari dengan diri mereka, sehingga bayangan yg keliru tadi pun tidak terbetik dalam benak mereka. Kalaulah matahari saja mampu melakukan hal-hal yg hebat tadi, maka apakah penciptanya tidak mampu (mustahil) untuk turun tanpa diliputi oleh tempat tertentu, atau turun tanpa tidak naik lagi, atau turun tanpa meninggalkan ‘Arsy-Nya… Mengapa Allah dianggap mustahil melakukan itu semua? Bukankah kalian mengimani bahwa ALlah mendengar doa seluruh hamba-Nya di mana pun, kapan pun, dengan bahasa apa pun mereka berdoa… kalian meyakini bahwa Allah tidak ‘bingung’ dengan banyak dan beranekaragamnya doa tsb… kalian juga meyakini bahwa Allah memberi rezeki semua makhluknya, baik manusia yg sekian milyar jumlahnya, maupun jin, semua binatang yang ada termasuk semut-semut di liangnya, ikan di lautan, burung di udara, dll… tanpa tersibukkan oleh mereka sedikitpun dan tanpa terlalaikan dari urusan lainnya… Kalau kalian mengimani semua kehebatan dan sifat Allah tadi, mengapa kalian tidak bisa mengimani bahwa Allah turun ke langit dunia secara hakiki, sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya dan tidak sama dengan cara turun makhluk-Nya? Demikian pula dengan sifat-sifat lainnya seperti tertawa, marah, dll…

Seandainya kalian kembali kepada fitrah dan meninggalkan pola pikir filsafat, lalu menerapkan keempat syarat tadi, niscaya semua sifat akan kalian imani dengan baik dan benar tanpa menimbulkan masalah sedikitpun…

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat, dan penulis berlindung kepada ALlah dari setiap kekeliruan dan salah tulis… semua kebenaran adalah milik-Nya, dan kesalahan adalah dari penulis pribadi. Wallahu a’lam bisshawaab.

FIQHUL JIHAD (3)

Posted: 21 Februari 2010 in analisa, bantahan, fiqih, jihad, manhaj, Salaf

Dalil-dalil akan permasalahan ini terdapat dalam Al Qur’an, As Sunnah, dan ijma’ para salaf.

Dalil-dalil dari Al Qur’an:

Ayat Pertama

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ [البقرة : 207]

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menjual dirinya demi mencari keridhaan Allah…” (Al Baqarah:207).

Disebutkan dalam sebab turunnya ayat ini [1]; bahwa Shuhaib t ketika itu sedang berhijrah dari Mekkah ke Madinah mendatangi Nabi e, maka orang-orang musyrikpun mencegatnya sedang ia seorang diri. Maka ia pun mengambil busur dan panahnya seraya berkata: “Demi Allah, siapa saja yang mendekat dari kalian pasti kupanah!” dan ia bersikeras untuk melawan mereka sendirian… kemudian katanya: “Kalau kalian ingin mengambil hartaku di Mekkah, maka ambillah oleh kalian; dan aku akan menunjukkan di mana tempatnya…”. Akhirnya Shuhaib tiba di Madinah dan bertemu Rasulullah e, maka sambut beliau: “Alangkah beruntungnya perniagaanmu wahai Abu Yahya (sapaan akrab Shuhaib t)”.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya, bahwa ada seseorang yang menyerang musuh sendirian, lalu orang-orang mengatakan: “Dia menjerumuskan dirinya pada kebinasaan”. Maka kata Umar t : “Sekali-kali tidaklah demikian, bahkan dia termasuk orang yang disebut oleh Allah dalam firman-Nya: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menjual dirinya demi mencari keridhaan Allah, dan sesungguhnya Allah itu amat penyayang terhadap hamba-hamba-Nya” (Al Baqarah:207) [2]. (lebih…)

Mukaddimah Penulis

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah yang kami senantiasa memuji, minta tolong, dan minta ampun kepada-Nya; sebagaimana kami senantiasa berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri kami dan kejelekan amalan kami. Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah maka tak seorang pun bisa menyesatkannya; dan barangsiapa disesatkan oleh Allah maka tak seorang pun yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwa tiada ilah melainkan Allah; dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad e adalah hamba Allah dan utusan-Nya; yang diutus kepada manusia dengan membawah petunjuk dan agama yang haq, agar Allah memenangkan agama itu diatas seluruh agama lainnya, dan cukuplah Allah sebagai saksinya. Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat dan salam-Nya kepada beliau.

‘Amma ba’du:

Ini merupakan suatu masalah yang perlu diketahui oleh kaum mukminin pada umumnya, dan khususnya para mujahidin; meskipun iman itu sendiri tidak akan sempurna tanpa adanya jihad[1]. Sebagaimana firman Allah ta’ala: (lebih…)

Akhir-akhir ini kaum muslimin di seluruh dunia sedang dilanda fitnah besar. Fitnah tersebut dihembuskan oleh dua golongan Ahli Bid’ah yang tergolong musuh Islam terbesar. Pertama fitnah Syi’ah, yang diwakili oleh Iran dan Hizbullah-nya. Golongan ini sepintas muncul sebagai pahlawan kaum muslimin dan simbol perlawanan terhadap kedigdayaan AS dan Israel yang selama ini telah banyak menyakiti umat Islam. Fitnah semakin menghebat tatkala Hizbullah yang dipimpin oleh Hasan Nasrallah terlibat perang hebat dengan Zionis Israel selama 34 hari pada tahun 2006 yang lalu. Perang besar tersebut dipicu oleh kegegabahan Hizbullah yang menculik dua orang serdadu Israel tanpa berkonsolidasi terlebih dahulu dengan pemerintah Lebanon, hingga demi membebaskan dua orang serdadunya tadi, Israel membombardir seluruh wilayah Lebanon hingga memporakporandakan negeri yang Indah tersebut, dan menyebabkan kerugian sekitar 2.5 miliar Dollar. Di samping itu, korban yang tewas di kalangan rakyat sipil mencapai 1000 orang lebih. Pun demikian, dunia menganggap Hizbullah lah yang menang karena Israel tidak berhasil menghancurkan sistem pertahanan roket Hizbullah meski telah membombardir Lebanon demikian hebat.[1]

Mata kaum muslimin pun terpaku menyaksikan patriotisme pasukan Hizbullah yang dengan ‘gagah berani’ menyerang tank-tank Merkava Israel, hingga berhasil menghancurkan 50 buah di antaranya. Bahkan disinyalir Hizbullah telah menembakkan 4000 roket dari 15000 roket yang dimilikinya ke wilayah Israel yang padat penduduk, hingga menyebabkan sejumlah 300 ribu yahudi diungsikan. Hasan Nasrallah pun mengeluarkan statemen-statemen yang dinilai pedas kepada Israel hingga Israel hengkang dari selatan Lebanon yang notabene adalah wilayah kaum Syi’ah. Nasrallah bahkan mengklaim akan membebaskan Masjidil Aqsha dari kekuasaan Yahudi dan seterusnya, hingga statemen tadi membikin sebagian kaum muslimin terkagum-kagum kepadanya, dan menjulukinya sebagai Khomeini Arab dan Khalifatul Muslimin. (lebih…)

Sekitar tahun 80-an, banyak orang-orang yang menamakan anaknya dengan Ayatullah dan Al Khomeini, salah satunya adalah teman SD saya yang namanya Ramatullah Al Khomeini. Entah berapa banyak kaum muslimin yang terkagum-kagum dengan sosok ‘Khomeini’ sebagai pemimpin revolusi Iran. Kekaguman tersebut sebenarnya bisa dimaklumi mengingat banyaknya orang yang tertipu sejak dahulu oleh sosok kakek tua dengan jenggot putih lebat yang “Zuhud” ini. Kekaguman yang sama juga pernah terjadi pada sosok Saddam Hussein saat perang teluk tahun 90-an meletus. Bahkan saya masih ingat sebuah pemberitaan di salah satu stasiun televisi bahwa ada sekitar 300-an bayi yang lahir dinamakan Saddam Hussein, dan semua bayi tersebut adalah orang Indonesia!

Demikianlah karakter bangsa kita yang demikian latah dan mudah bersimpati. Sekali lagi itu bisa dimaklumi mengingat Indonesia sendiri adalah bukan negara Islam, namun negara Pancasila dan UUD ’45. Artinya, meski mayoritas rakyat Indonesia adalah muslimin Ahlussunnah bermadzhab Syafi’i, akan tetapi mereka rata-rata jahil terhadap pokok-pokok ajaran Ahlussunnah itu sendiri. Ini merupakan salah satu buah manis dari sekulerisme yang diadopsi dalam pendidikan-pendidikan di sekolah Negeri selama ini.

Saya berkata demikian karena saya sendiri pernah mengenyam pendidikan Negeri selama enam tahun. Hasilnya? Ya beginilah… tidak bisa mengenali yang hak dari yang batil, dan tidak membedakan mana kawan dan mana lawan… kalau saja Allah tidak berkenan memberi hidayah kepada saya hingga tergerak untuk mempelajari agama lebih dalam dari sumber yang otentik.

Salah satu fitnah besar yang melanda kaum muslimin di era 80-an adalah fitnah Revolusi Iran. Bagaimanakah hakikat revolusi Iran tersebut? Siapakah tokoh-tokohnya? Benarkah Iran adalah negara Islam? Insya Allah kami akan mencoba memberikan jawaban atas itu semua melalui tulisan ini. Dan perlu diketahui, bahwa dalam menulis artikel ini saya banyak merujuk kepada sebuah buku yang ditulis oleh mantan orang dekatnya Khomeini, yaitu DR. Musa Al Musawi. Beliau adalah mantan tokoh Syi’ah yang kemudian taubat setelah mengetahui berbagai kesesatan dan kebobrokan ajaran Syi’ah. Beliau sendiri telah menulis beberapa buku tentang hal itu, dan mengalami beberapa percobaan pembunuhan karenanya. Yang terbaru dari tulisan-tulisan beliau adalah kitab Ats Tsaurah Al Baa-isah, yang tak lain adalah buku yang kami maksud.

Tulisan ini adalah sebagian kecil dari apa yang beliau paparkan dengan sangat indah dan ilmiah tentang Revolusi Iran, yang insya Allah jika tersisa waktu, saya akan menerjemahkannya secara keseluruhan. (lebih…)